Mencari Wanita Itu Adalah Mencari Diri Anda
4 Mei, 2008
==tulisan ini awalnya berjudul “Makna Pipit di Hatiku”…==
Waktu aku menanyakan tentang kriteriamu, sambil menunggu-nunggu jawabanmu, aku juga memikirkan kriteriaku, Pit… aku menebak-nebak sendiri, apakah kriteriaku sekarang akan sederhana atau rumit, akan berubah atau masih seperti yang dulu, apakah merujuk pada kenangan tertentu di masa lalu atau hadir sebagai sesuatu yang baru, apakah kembali kepada seseorang yang pernah dekat dan berarti atau lahir seperti bayi yang belum diberi nama.
Sambil menstaples amplop-amplop kemarin itu Pit, aku mencoba memikirkan juga jawabanku untuk pertanyaan yang kuajukan padamu… di kamarku, aku masih juga memikir-mikirkan pertanyaanku sendiri… dan sekarang aku mencoba menuliskannya untukmu…
Seperti aku sebutkan tentang dialogku dengan ibuku…
Sebelumnya izinkan aku menceritakan sedikit tentang dia padamu: bagiku dia adalah perempuan nomor satu terbaik di dunia yang mengajariku memasak sekaligus memarahiku habis-habisan waktu aku kecil kalau malas membantu ke dapur. Dulu sambil memasak, dia akan menguji kemampuan perkalianku…sambil mengaduk sayur aku akan berpidato: 2×3=6, 2×4=8, dstnya. Kalau mau ujian, dialah yang memegang buku pelajaran dan mengujiku dengan lisan. Dialah orang pertama yang mengajariku—hingga aku mengerti—bagaimana menggunakan to be dalam Bahasa Inggris (justru bukan guru bahasa Inggrisku di sekolah). Dialah yang akan sembunyi-sembunyi mendatangi guru-guruku kalau diketahuinya ada nilaiku yang turun dari biasanya.
Yang lebih penting untuk cerita ini adalah bahwa, ibuku ini Pit, adalah perempuan satu-satunya tempatku mengadu ketika aku merasa perempuan lain di luar sana mengecewakan aku. Dan kalau waktu itu aku menangis di pangkuannya, dia akan membelai dan mencium kepalaku, kemudian akan menangis bersamaku. Dia akan menghiburku dan mengingatkanku bahwa luka-luka hati akan membuat kita lebih kuat kalau kita dapat menyembuhkannya. Dia juga mengajariku untuk berterima kasih kalau seorang perempuan mengecewakanku amat dalam, karena sesungguhnya dia sudah memberiku pintu untuk mengetahui seberapa kuat aku sesungguhnya menghadapi hidup ini sebagai seorang laki-laki…sampai sekarang, pelajaran ini Pit, yang paling sulit aku jalankan.
Yang lebih penting lagi, Pit…dia juga yang memberiku pijakan dasar bagaimana seorang laki-laki seharusnya menyayangi seorang perempuan dengan tulus sekaligus penuh humor, keras kepala sekaligus lembut, melindungi sekaligus mengerti, merengkuh sekaligus membebaskan, mencemaskan sekaligus mempercayai. Dia mengajariku untuk tidak mencintai perempuan karena perlakuannya mirip seperti ibuku memperlakukan aku—aku harus mencintai seorang perempuan karena dirinya sendiri, bukan karena bayang-bayang ibuku. Karena semua perempuan pun memiliki masa kecilnya sendiri, memiliki ibunya sendiri, yang mungkin jauh berbeda dari yang aku miliki…
Aku lanjutkan lagi, Pit…
Seperti aku sebutkan tentang dialogku dengan ibuku… tidak ada perubahan yang besar dalam kriteriaku…
Dulu aku pernah mengatakan bahwa perempuan itu harus menyenangkan untuk dilihat. Perempuan yang menyenangkan untuk dilihat itu bagiku adalah yang menghargai dirinya sendiri. Menghargai raga dan semua yang diberikan Tuhan kepadanya, tetapi tidak semata-mata menggunakan itu untuk menarik perhatianku atau orang lain di sekitarnya. Menghargai diri itu bagiku jauh berbeda dari memamerkan diri.
Dia harus merasa dirinya cantik—sehingga kalau aku mengatakan dia cantik, dia akan tersenyum dan berterima kasih. Kalau tidak, dia akan merasa aku mengejeknya, atau memproyeksikan bayanganku tentang kecantikan kepadanya. Dia harus percaya dirinya cantik, sehingga kalau aku mengatakan dia cantik, dia tidak akan curiga bahwa aku mungkin menyimpan keinginan egoistik tertentu di balik pujian itu.
Tapi aku tidak mencari seseorang yang cantik, Pit. Aku mencari…yang tercantik. Karena katanya hal-hal tercantik dan terindah di dunia ini tidak bisa dilihat dengan mata, dan hanya bisa dilihat dengan hati, maka aku akan mencarinya dengan hati. Aku akan memandangi dan mencoba mengenalinya dengan hatiku. Hingga kalau suatu saat kamu melihatku berbicara dengannya, sesungguhnya hatikulah yang berbicara. Bahkan kalau kamu mendengarku bertanya tentang dia, sesungguhnya aku bertanya dengan hati… semakin dalam aku menggunakan hatiku, pasti semakin dalam kecantikan yang bisa kutemukan. Sebuah kecantikan yang tetap akan kulihat meskipun wajahnya nanti keriput dan fisiknya berubah. Sebuah kecantikan yang tetap hadir meskipun dia menghilang dari pandangan mata, entah sementara atau untuk selamanya.
Karena sulitnya kriteria ini, Pit… aku menjadikan “menyenangkan untuk dilihat” sebagai kriteria penutup. Kecantikan yang tercantik itu bagiku adalah kesimpulan akhir sesudah masa-masa indah dan sulit dilewati. Setelah bertengkar hebat, hampir putus, dan memulai lagi semuanya dari awal. Setelah saling menangis, untuk dan karena satu sama lain. Setelah sakit perut karena tertawa waktu saling mengolok satu sama lain. Setelah dia keriput, peot, ompong, bungkuk—dan aku rabun, rapuh, dan sakit-sakitan. Finally, she is the beautiest ever after—akhirnya, dialah yang tercantik selamanya. Itu adalah perjalanan terjauh yang mungkin harus ditempuh untuk menemukan kecantikan sejati. Tapi aku menyadari sering kali perjalanan itu harus berhenti sebelum sampai di tujuan yang sebenarnya.
Jadi, Pit, kriteriaku yang pertama adalah kesediaannya belajar. Aku akan sangat mudah jatuh di hadapan seorang perempuan yang bersedia belajar hal-hal baru. Yang membuka dirinya terhadap dunia ini. Yang tidak semata-mata melihat sesuatu dengan masa lalunya. Yang meskipun tidak suka kalah, tetapi siap mengambil resiko untuk gagal, dan berani menghadapi ujian. Yang menangis waktu kalah, tapi bisa menghapus air matanya sendiri dan bangkit kembali. Yang memandang dunia ini dengan mata seorang profesor kecil yang penasaran.
Yang terpenting adalah bahwa tentu dia siap belajar menyayangi seseorang. Dia menyadari bahwa menyayangi seseorang itu tidak semudah yang diceritakan dalam buku dan film. Menyayangi itu tidak selamanya romantis, tidak selamanya bahagia, dan tidak selamanya berbalas setimpal. Menyayangi itu kadang-kadang dikecewakan, ditinggalkan, diabaikan, diremehkan, tidak diterimakasihi. Tapi dia berani mengambil resiko itu karena dia mengaku dirinya masih belajar menyayangi. Kalau akulah orang yang disayanginya, Pit…aku tidak bisa menyakiti perempuan ini dengan sengaja. Aku akan menyayanginya, tapi tidak akan menganggapnya milikku, karena aku terlalu kecil untuk memenuhi kelapangan jiwanya. Sehari-hari, dalam kebersamaan kami, pastilah aku tidak bisa beristirahat sementara dia masih bekerja keras, tertawa sementara dia menangis, beramai-ramai sementara dia kesepian, menikmati sesuatu sementara dia berkorban, apalagi berkhianat sementara dia setia. Aku tidak akan pernah mengekangnya melakukan sesuatu untuk alasan apapun kecuali Kebenaran, apalagi dengan alasan statusku di hatinya. Aku tidak akan menggunakan rasa sayangnya padaku untuk menyudutkannya atau mempersulitnya mengambil keputusan bagi dirinya sendiri, atau membuatnya merasa bersalah padaku. Aku tidak akan memintanya menjadi pengasuhku seperti ibuku mengasuhku ketika aku bayi. Aku cukup berterimakasih dia sudah menganggapku begitu penting, sementara sisanya, biarlah dia menjadi diri yang dia inginkan. Apalagi anugrah yang lebih indah, yang mungkin diterima seorang laki-laki dari seorang perempuan, selain rasa sayang yang tulus dan dalam?
Kriteria keduaku, Pit adalah kebaikan hatinya. Aku mudah terpesona, Pit, pada seseorang yang baik. Bagiku kebaikan cuma satu defenisinya: kesediaan mengorbankan diri dengan tulus. Aku mudah tersentuh melihat seseorang yang siap kehilangan sesuatu semata-mata agar orang lain keadaannya lebih baik. Entah sesederhana dan semurah apapun “sesuatu” itu. Yang mahal dan sulit ditemukan adalah ketulusannya. Tapi lebih tidak mungkin lagi ketulusan ditemukan pada seseorang yang hanya memikirkan dirinya sendiri, yang selalu menghitung-hitung pengorbanannya, yang tidak peduli apakah kehadirannya memudahkan atau menyusahkan orang lain.
Kriteria kedua ini terpenuhi justru kalau aku melihat dia baik kepada orang-orang di sekitarnya dengan spontan dan penuh harga diri. Dia berkorban bukan karena alasan hubungan keluarga, alasan membalas kebaikan, alasan teman baik. Satu-satunya alasannya adalah: kalau bukan aku, siapa lagi? Dia pun berkorban bukan karena tidak punya pilihan lain, bukan karena dia punya segala-galanya, bukan karena berkorban itu mudah, Pit. Dia justru punya kesempatan untuk menutup mata, tapi dia bilang: peduli itu emang repot, so what?
Kalau dia sudah menyukai aku, kebaikan dan perhatiannya padaku tidak lagi aku perhitungkan. Apakah dia memang tulus padaku? Aku hanya ingin melihat kebaikannya yang spontan, meskipun sederhana, terhadap orang lain, bahkan bila perlu terhadap binatang-binatang remeh dan kecil di sekitarnya. Tapi bagaimanapun besar kebaikan yang dilakukannya, bagiku ketulusan adalah segala-galanya.
Yang ketiga, Pit… ibadahnya. Aku mudah pasrah menyerah di depan seorang perempuan yang ibadahnya mengejutkanku. Ibadahku sendiri masih kurang, tapi aku menganggap perilaku beribadah yang konsisten merupakan kesetiaan tertinggi yang bisa ditunjukkan manusia. Bagiku, ibadah merupakan janji pertama yang harus dipenuhi. Seperti kebaikan yang spontan dan tulus, ibadah mestinya juga mengejutkan dan disembunyikan. Karena itulah, Pit, aku tidak bilang dia taat ini-itu… cukup hanya “ibadahnya mengejutkanku”. Dia tidak perlu bercerita, dan aku pun tidak perlu sengaja bertanya—tapi tiba-tiba saja…PHAW! Tuhan, dengan caranya sendiri, menunjukkan padaku bahwa perempuan ini sedang beribadah padaNYA.
Kalau dia sudah menyukaiku, atau bahkan kalaupun perasaanya padaku belum istimewa, aku berharap dia selalu mengingatkanku pada janji pertama dan kesetiaan tertinggiku. Bahkan di saat-saat kami berdua. Atau meskipun karenanya kami harus berpisah. Dia akan marah padaku kalau aku melupakan janji dan mengkhianati kesetiaan tertinggiku. Dia bisa mengatakan bahwa hanya Tuhanlah yang memiliki diri kita masing-masing. Sedangkan cinta seberapapun besarnya hanyalah janji bahwa masing-masing kita peduli satu-sama lain, bukan penyerahan diri secara total.
Hanya itu Pit, kriteriaku… 1 kesimpulan plus 3 uraian, atau 3 uraian plus 1 kesimpulan.
Dengan kriteria sederhana seperti itu, kamu tentu mengerti dan bisa membayangkan apa yang aku rencanakan bersama perempuan seperti ini.
Kami akan banyak berjalan, Pit… kami akan menempuh perjalanan sejauh-jauh yang kami bisa, agar kami dapat mempelajari diri kami masing-masing, dan satu sama lain. Entah itu perjalanan lahir, maupun perjalanan batin. Dengan itulah kami semakin memahami. Aku akan mendorongnya untuk sesekali mengambil jarak dari aku, agar aku bisa melihat dirinya dari sudut yang lain, demikian pula nantinya dia melihat aku. Aku mendorongnya untuk mempelajari hal-hal baru, sebagaimana juga dia mendorongku. Kami akan bergantian menjadi murid dan guru satu sama lain. Dia akan memberiku nilai, sebagaimana aku memberinya nilai untuk hal yang dia pelajari dari aku.
Kemudian aku katakan padanya bahwa kita hadir bukan hanya untuk kita berdua, tapi untuk orang lain yang tidak sebahagia dan seberuntung kita. Kami akan cukup sibuk memikirkan orang lain, Pit. Kami berlomba untuk memberi…kami berebut melayani satu sama lain… Ketika hanya ingin berdua pun, kami tidak akan mengabaikan kesempatan menjaga kebaikan hati. Aku akan mengajaknya melakukan kebaikan-kebaikan rahasia yang menjadi proyek berdua. Kemudian ditutup dengan saling memuji dan berterima kasih untuk hal-hal sederhana yang sudah dilakukan dengan tulus. Meskipun kami terkait satu sama lain, kami tidak akan terpisah dari sahabat-sahabat, maupun orang-orang lain yang kami anggap penting. Kami tidak akan menjadi asing bagi mereka hanya karena kami memiliki komitmen yang dalam untuk peduli satu sama lain. Justru karena kami dekat, aku berharap kepedulian dan kebaikan hati itu semakin kuat. Akan terlihat, Pit, kami lebih peduli pada orang-orang terdekat kami, dan membuka diri terhadap orang-orang asing. Tidak apa-apa kalau orang lain tidak memahami hubungan kami yang sebenarnya, tidak setuju, tidak mendukung, tapi biarlah mereka melihat bagaimana kebaikan dan kepedulian itu terbit semakin bercahaya dari kedua hati. Seandainya kebersamaan kami bisa memberikan kebaikan, meskipun kecil saja, bagi dunia ini, bagiku itu sudah cukup. Karena ketika sendirian saja kita harus seperti itu, apalagi ketika berdua …
Dalam perjalanan panjang dan kesibukan menumbuhkan orang lain di sekitar kami itu, aku berharap janji pertama dan kesetiaan tertinggi kami masing-masing semakin baik. Kami akan menyerahkan banyak sekali hal pada Tuhan, Pit. Karena janji dan kesetiaan tertinggi inilah maka semakin lama kami bersama, jiwa kami semakin sederhana. Kami semakin menyadari bahwa semua yang ada hanyalah titipan sementara, sehingga setiap saat kami berusaha menjadi seseorang yang lebih berarti satu sama lain. Aku akan mengingatkannya bahwa ketika suatu saat kami tidak lagi punya kekuatan untuk bertahan bersama, biarlah Tuhan yang menjaga ikatan hati kami—supaya kami bisa berjalan terus hingga saat ketika Dia mengatakan waktu kami telah habis. Dan kalau saat itu tiba, apapun situasi dan penyebabnya, aku berharap kata-kata terakhirku tentang dia adalah “perempuan tercantik” dan kata-kata terakhirnya tentang aku adalah “laki-laki tertampan”.
Cuma 3 paragraf itu Pit, rencana yang kupikirkan. Entah untuk waktu 3 bulan, 3 tahun, atau 30 tahun. Waktu menjadi tidak penting kalau kita sudah menemukan seseorang yang kita percaya dan mempercayai kita untuk memandang dan berjalan ke suatu arah secara bersama-sama. Bagiku untuk hal sepenting ini, memikirkan dengan siapa kita berjalan sering kali jauh lebih penting dari pada memikirkan apa yang akan kita bawa selama perjalanan ini. Dengan orang yang tepat, kita akan siap menghadapi apapun. Kita bisa menikmati hari demi hari tanpa terlalu khawatir apakah hasil akhir kita akan benar-benar berjalan sesuai rencana. Kita tidak peduli berapa lama ini semua akan berlangsung. Bahkan kita tidak peduli pada keabadian karena apa yang kita miliki bersamanya hari ini bisa kita nikmati dan syukuri.
Yang paling sulit justru memeriksa apakah aku sudah cukup peka terhadap kriteriaku sendiri? Sedemikian peka hingga hanya dalam perkenalan sesaat aku sudah dapat mengenali perempuan seperti ini. Sedemikian peka sehingga aku cukup sabar menuntunnya ketika jalan yang kami pilih penuh jebakan, menggendongnya ketika dia kehabisan tenaga, menunggui dan mendampinginya seandainya dia tidak sesempurna yang kupikirkan dan kami berjalan tertatih-tatih. Sedemikian peka sehingga aku cukup rendah hati untuk mengatakan “Aku bodoh dan lemah. Maafkan aku karena itu. Aku masih dan akan terus belajar memahami dan menyayangi kamu—bantulah dan ajarilah aku supaya kebodohan dan kelemahanku tidak menyakitimu”.
Pit, aku menyadari bahwa tidak mungkin aku menemukan perempuan seperti ini kalau aku sendiri masih jauh dari kriteria yang kutetapkan untuknya. Karena pasangan yang kita pilih adalah cermin dari jiwa yang tersembunyi di balik semua yang kita tampilkan di hadapan orang lain. Pasangan yang kita pilih adalah satu lukisan yang mencerminkan harapan kita tentang diri sendiri. Dia adalah gambaran dari apa hal tertinggi yang ingin kita berikan dan yang ingin kita dapatkan dari seseorang. Bagiku hal-hal tertinggi itulah yang mengaitkan kita dengan pasangan kita, dan membedakan dirinya dari orang-orang lain yang kita kenal.
Dan aku ternyata masih belajar, Pit… perlu belajar amat banyak agar arahku hidupku sendiri sesuai dengan arah hidup perempuan yang aku sebutkan di atas. Aku perlu belajar semua yang aku tuliskan tentang kriteria-kriteria itu… Perlu belajar agar dia pun nanti melihatku seperti aku melihat dia.
Kalau kamu tanya: Apa yang akan dilakukan kalau bertemu dengan Perempuan 3+1 ini?
Jawabanku: Aku akan tanya perempuan di seluruh dunia bagaimana sebaiknya aku memperlakukan perempuan sepenting ini. Aku akan belajar dan menjadikan semua perempuan sebagai guru agar aku tidak menyakitinya. Yang pertama kutanya tentu Ibuku dan satu perempuan terbaik lain. Kemudian di hatiku dia akan kujadikan sahabat sekaligus kekasih, dan berbagi dengannya semua hal baik dalam tubuh dan jiwa yang bisa dibagikan seorang laki-laki kepada seorang perempuan.
Oya, dulu Pit… dalam pertemuanku terakhir, pernah ibuku menawarkan mencari 3+1, aku bilang, “Kalau Ummi yang cari, kriterianya ditambah: harus anak tunggal, ayahnya sakit-sakitan tapi punya warisan banyak, ibunya udah meninggal, dan dia harus siap dimadu”…Mendengar tambahan ini, ibuku langsung sadar bahwa urusan ini bisa jadi panjang tak berkesudahan hingga menyusahkan dirinya sendiri, kemudian langsung berhenti menawarkan bantuan apapun. Nnnnnash, gitu lo…emmaknya saza dikerzaaa-i sama dia…
Epilog: Tulisan ini datang dari masa lalu…sangat lalu…dalam versinya yang paling lengkap…yang selalu aku baca dan renungkan kembali.