Tuhan buatkan bagi hamba seorang putra yang cukup kuat untuk menyadari kalau ia sedang lemah, dan cukup tabah untuk menghadapi dirinya sendiri kalau ia sedang takut. Putra yang bangga dan tidak putus asa kalau kalah secara jujur, dan rendah hati serta lembut dalam kemenangan.

Berikanlah bagi hamba seorang putra yang bukan cuma bisa berharap, tetapi juga mampu berbuat. Seorang putra yang mengenal Engkau. Jangan bawakan ia ke jalan yang serba mudah dan serba enak, tetapi biarlah ia belajar berdiri di tengah badai dan biarlah ia merasakan penderitaan orang-orang yang gagal.

Buatkanlah bagi hamba seorang putra yang hatinya jernih, yang cita-citanya tinggi. Putra yang dapat mengendalikan dirinya sendiri sebelum mencoba mengendalikan orang lain. Yang meraih masa depan tetapi tidak melupakan masa lalu.

Dan kalau semua itu sudah menjadi miliknya, hamba mohon agar dia diberi rasa humor. Berilah juga dia kerendahan hati, supaya ia selalu ingat kesederhanaan dari keagungan sejati, keterbukaan dan kebijaksanaan sejati, dan kelemahan dari kekuatan sejati.

Epilog: Ini adalah salah satu do’a terbaik yang pernah aku ketahui dan dengar. Aku mencoba mencari otentifikasi benarkah ini memang dinyatakan oleh Douglas Mac Arthur. Tapi sampai sekarang belum kutemukan. Bahkan mencari naskah asli Inggrisnya pun belum selesai. Naskah ini dihadiahkan padaku oleh seorang teman, Sri Prafanti, namanya, tgl 7 Maret 1989. Aku mendengar dia menyelesaikan kuliahnya di Politeknik Universitas Sumatera Utara. Tapi kabar lain tidak lagi kuketahui. Selain versi ini, aku pernah menemukan versi lain, tapi kupikir, inilah yang terbaik.

Leave a Reply