Dalam salah satu seminar 2 harinya di Amerika Serikat, Idries Shah, seseorang yang perannya dalam memperkenalkan tradisi sufi di Barat dianggap sebanding dengan peran Dr. Daisetz Teitaro Suzuki memperkenalkan tradisi Zen dan Shinto, mengatakan, “Anda tahu bahwa saya sudah berbicara selama 4 jam. Selama itu saya belum pernah menggunakan kata “Allah” atau “Kasih”. Kami sebagai penganut sufi tidak pernah memakai kata-kata itu secara sembarangan. Kata-kata itu adalah suci”.

Anekdot ini mengingatkan aku pada sebuah cerita lain tentang Muhammad (cinta baginya). Suatu hari seorang pembunuh bayaran bernama Du’tsur yang sudah mengintai dan mengejarnya berhari-hari, berhasil menemukannya sendirian di sebuah tempat sepi sedang beristirahat di bawah pohon kurma. Du’tsur, sambil menghunus pedangnya, berkata,”Muhammad, sekarang siapa yang akan melindungimu dari pedangku?”. Muhammad, dicatat dalam sejarah Islam, hanya menjawab, “Allah”, seketika Du’tsur tak berdaya dan pedangnya jatuh. Ketika Muhammad kemudian mengajukan pertanyaan yang sama sambil menghunus pedang, Du’tsur terdiam seribu bahasa. Sejarah mencatat bahwa Du’tsur kemudian percaya bahwa Muhammad adalah utusan Tuhan dan yang layak disebut Tuhan hanyalah Allah.

Kemudian kita tiba-tiba sering terlempar pada sebuah situasi di mana Tuhan diperbincangkan tidak lagi dengan menggetarkan. Tidak ada rasa takut ketika akan melakukan kejahatan. Tidak ada rasa syahdu ketika mengalami kesedihan. Tidak ada kerendahan hati ketika mengalami kebahagiaan. Jangan lagi ta’zhim. Kita melihat di televisi bagaimana nama Tuhan diteriakkan dengan pengeras suara oleh sekelompok orang yang menggugat jumlah suara yang mereka dapatkan, menerobos barikade keamanan, merusak dan membakar barang-barang yang bukan miliknya. Ketika Irawady Joenes, anggota Komisi Yudisial nonaktif, divonis 8 tahun penjara dan denda 200 juta karena korupsi, istrinya yang berbusana muslim dan berkerudung, berteriak “Allahu Akbar” sebagai bentuk dukungan pada suaminya, dan kemarahan pada hakim (Forum Keadilan, 24 Maret 2008). Dalam situasi lain yang tidak begitu emosional, kita melihat orang-orang yang sehari-hari sama sekali tidak peduli pada nama Tuhan, rumah Tuhan, kemudian berdebat tentang mana hak Tuhan dan mana hak manusia. Tidakkah aneh menurut anda, orang-orang yang sepanjang hidupnya menolak mengakui spiritualitas, apalagi melibatkan Tuhan dalam keputusan-keputusan yang mereka ambil, kemudian berbicara atas nama Tuhan? Tidakkah menurut anda, orang-orang yang mengafirmasi “hanya Tuhan yang berhak begini dan begitu” juga berbicara atas nama Tuhan? Sama saja dengan orang-orang yang mereka hujat karena mengatakan “Ini dan itu dilarang Tuhan”.

Bagiku–yang tidak terlalu tertarik pada perdebatan mana hak Tuhan dan mana yang bukan, dibanding dengan mengamati bagaimana manusia menghubungkan dirinya dengan Tuhan– bagaimana kita “memperlakukan” Tuhan menunjukkan siapa sesungguhnya kita secara spiritual. Sebuah gambaran tentang identitas spiritualitas pribadi yang berada dalam garis kontinum. Tradisi agama-agama besar memiliki nama bagi posisi-posisi individu dalam garis kontinum ini, dan bukan hanya itu, mereka juga memberikan jalan yang dapat ditempuh untuk memperkuat identitas spiritual itu. Kalau kita mengambil rujukan dari salah satu agama Langit, Kaum Sufi, dari tradisi Islam, menyebutnya “maqam”.

Aku ingin menceritakan sebuah versi garis kontinum bagaimana orang memperlakukan institutionalized religion. Untuk menyederhanakan defenisinya, semua agama besar yang ada di dunia ini adalah institutionalized religion. Beberapa orang dengan alasan tertentu menyebutkan Buddha dan Hindu bukanlah sebuah agama, tetapi dengan konsep teologi yang terstruktur jelas, ritual, dan sebagainya, sangat sulit mengeluarkan Buddha dan Hinduisme dari kelompok ini. M. Scott Peck MD, seorang psikiater Amerika, dalam bukunya “Further Along The Road Less Traveled”, menuliskan 4 tahap sikap orang terhadap agama.

EMPAT TAHAP PERKEMBANGAN KEBERAGAMAAN
Penyusunan tahap-tahap perkembangan manusia diawali oleh filsafat, dan kemudian dilanjutkan lebih saintifik oleh Psikologi. Psikologi mempelajari dua isu penting dari manusia, yang demikian pentingnya hingga bagi banyak pihak dua hal itu dapat dianggap sebagai inti dari Psikologi, yaitu: Bagaimana manusia berbeda atau justru sama satu dengan lain (Psikologi Kepribadian) dan Bagaimana manusia tumbuh menjadi lebih matang atau justru mengalami fiksasi dan regresi (Psikologi Perkembangan). Orang-orang sakit jiwa, dalam perspektif psikologi, mengalami masalah dalam kepribadiannya, yang berhubungan dengan kegagalan pada tahap perkembangannya. Dalam detilnya, Psikologi memiliki beberapa teori spesifik tentang “bagaimana emosi manusia berkembang”, “bagaimana cara berpikir manusia berkembang” dan ” dan bagaimana moralitas manusia berkembang”. Peck mengatakan sebagian analisisnya merujuk pada teori-teori itu, tetapi bagian terbesarnya merujuk pada pengalamannya menangani pasien-pasien dalam praktek psikoterapinya.

Tahap Pertama adalah “Kekacauan dan Anti Sosial”…Mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki kehidupan rohani, bahkan tidak percaya pada nilai-nilai moral. Pada bentuk mentahnya, orang-orang ini sering menimbulkan masalah di manapun dia berada. Mereka adalah orang-orang yang melakukan kejahatan terhadap apapun di dunia ini. Mereka melakukan kejahatan di rumah, di sekolah, bahkan ketika mereka mengatakan ingin berbuat baik. Dalam bentuk yang lebih canggih, orang-orang ini mungkin dapat tampak seperti seorang spiritualis atau religius, tetapi sebetulnya menyimpan motif keuntungan pribadi. Dalam Psikologi Kepribadian dikenal Tipe Kepribadian Anti Sosial yang memiliki ciri umum menganggap hidup ini sebagai “to kill or to be killed”, menganggap bahwa semua orang harus melayaninya, dan yang paling penting: tidak pernah merasa bersalah. Tetapi tentu saja hampir tidak ada orang anti sosial mutlak. Tetapi dari derivasinya saja, merekalah yang menggunakan agama untuk mencari kekuasaan, bukan demi kebaikan ummat manusia. Mereka menggunakan agama sebagai fesyen dan kosmetik. Mereka, akan membicarakan Tuhan, sambil melecehkan manusia. Amat sulit menghadapi orang-orang antisosial yang canggih seperti ini, terutama karena kadang-kadang mereka memiliki kedudukan (selebriti, politisi, tokoh agama, bahkan seorang admin) atau sumber daya (uang, teknologi, dan pengetahuan). Yang bisa “menyelamatkan” orang-orang pada tahap ini hanyalah “mukjizat”. Sering mereka “dihancurkan” oleh sebuah peristiwa terlebih dahulu barulah kemudian tercerahkan. Beberapa orang yang “dikenal” sukses, misalnya, tercerahkan setelah anaknya terlibat narkoba atau sesudah masuk penjara karena korupsi. Ketika mereka tercerahkan seperti ini, yang mereka katakan adalah, “Aku bersedia melakukan apa saja untuk membebaskan diri dari penderitaan ini–apa saja. Bahkan bila harus menyerahkan diri kepada sesuatu agar aku dapat dikendalikan dan disembuhkan”. Dengan inilah mereka kemudian beralih ke Tahap Kedua.

Tahap Kedua adalah “Formal dan Institusional”…Mereka adalah orang-orang yang mengandalkan sesuatu yang formal dan institusional untuk mengendalikan diri, merasa aman, bahkan untuk merasa berharga. Mereka membutuhkan aturan yang jelas, bukan untuk mengembangkan dirinya, tetapi untuk bisa menenangkan jiwa mereka yang resah dan liar. Beberapa orang menganggap penjara merupakan tempat untuk mengendalikan diri. Di penjara mereka akan “berkelakuan baik” dan segera mendapatkan pengurangan hukuman atau pembebasan bersyarat, tetapi ketika kembali ke masyarakat, mereka mengulangi kejahatan yang sama, untuk dimasukkan kembali ke institusi yang membuat mereka dapat “berkelakuan baik”. Beberapa yang lain menganggap kemiliteran sebagai pengatur hidupnya. Konon, di akademi militer, cara melipat tisu bekaspun harus seragam, suapan pertama makan siang didahului sempritan. Tanpa harus menjadi militer pun, orang-orang seperti ini akan menganggap diperintah atasan jauh lebih menyenangkan daripada memerintah diri sendiri. Beberapa yang lain menganggap perusahaan tempatnya bekerja adalah penenang batinnya. Semakin besar dan terkenal perusahaan itu, semakin baik bagi jiwanya. Beberapa orang juga menjadikan pernikahan berkali-kali untuk mendapatkan ini.

Tetapi yang terbanyak diperlakuan sebagai ini adalah agama. Mereka adalah orang-orang yang sangat formal dalam menjalankan agama. Pada bentuknya yang kasar, orang-orang ini melakukan kebaikan karena agama memerintahkannya. Mereka berangkat haji setiap tahun, karena Islam memerintahkannya. Tetapi di luar Makkah, mereka masih tetap menganggap manusia itu berkasta-kasta. Mereka menyembelih qurban karena Ibrahim (salam baginnya) dan Muhammad (rindu untuknya) melakukannya ribuan tahun yang lalu, tetapi setelah darah yang tercecer dibersihkan, mereka tetap terjebak pada perasaan memiliki yang neurotik terhadap segala sesuatu. Mereka merayakan malam Natal karena Yesus dilahirkan waktu itu, tetapi bahkan baru di malam Tahun Baru saja, mereka berpesta dan sudah melupakan orang-orang yang memikul salib di via dolorosa-nya sendiri. Dalam bentuk canggihnya, orang-orang ini adalah yang sedemikian formalnya hingga tidak bisa menerima perbedaan. Sedemikian formalnya bahkan mereka hanya mempercayai kata-kata pemimpin kelompoknya. Hanya mempercayai prosedur yang sudah mereka jalankan atau yang diajarkan kepada mereka selama bertahun-tahun. Di dalam Psikologi Kelompok, dikenal istilah groupthink. Semacam kecenderungan untuk menjaga keutuhan kelompok dengan sesuatu yang formalistik, menolak informasi dari luar, merancang sistem atau menempatkan seseorang sebagai watchdog, dan menganggap keputusan kelompok adalah segala-galanya. Selain kebohongan, inilah yang mengawali serbuan Bush ke Irak 2002. Inilah yang menghancurkan sistem kepemimpinan di Indonesia era Orde Baru. Tapi ini pula yang terjadi ketika orang-orang beragama mengkultuskan tokoh-tokohnya. Ini juga yang kemudian melahirkan sekte pada agama-agama besar dunia. Hampir semua orang pada tahap ini pada awalnya akan menikmati formalisme ini, dan mungkin akan membelanya. Tetapi beberapa orang dari kelompok ini kemudian akan merasa adanya kesenjangan antara das sollen dan das sein, “apa yang seharusnya” dengan “apa yang terjadi”. Kelompok kecil ini kemudian membaca sumber sejarah alternatif, unofficial biographies, pamflet, berita-berita buruk tentang kelompoknya sendiri, atau kelompok yang kata orang tua mereka harus mereka ikuti. Setelah itu, hasilnya adalah krisis spiritual. Dengan krisis inilah mereka memasuki Tahap Ketiga

Tahap Ketiga adalah “Skeptis dan Individual”… Mereka adalah orang-orang yang lari dari masjid, gereja, kuil, dan sebagainya karena kecewa pada institutionalized religion ini. Mereka menolak shalat, misa, puasa, pembaptisan, karena mereka menganggap itu bagian dari penyebab kekerasan dan keterpecahan manusia. Beberapa orang bahkan mengembangkan semacam fobia terhadap simbol-simbol agama: jilbab, rosario, minaret, salib, bulan sabit, bintang Daud. Beberapa di antara mereka bahkan kecewa pada Tuhan-sebagai-sebuah-pribadi, bukan hanya sebagai bagian agama, untuk kemudian menjadi atheis. Orang-orang yang agnostik dan atheis ini berbeda dari orang-orang Tahap Pertama karena mereka bukan orang yang anti sosial. Mereka mungkin akan menjadi relawan dan anggota organisasi Wartawan/Dokter Tanpa Batas, Green Peace, Save the Children, Transparency International, atau Duta bagi PBB. Mereka bisa saja adalah orang tua yang penuh cinta dan memikirkan yang terbaik untuk pendidikan anak-anaknya. Kekecewaan merekalah yang membuat mereka skeptis pada Agama dan Tuhan. Mereka akan mendiskusikan agama seperti mendiskusikan puisi atau lukisan, atau film horor yang bagus. Mereka mungkin mengatakan bahwa mereka dapat bertemu Tuhan di kafe atau butik di hari Jum’at atau Minggu ketika pada jam yang sama orang lain mencari Tuhan di Masjid atau Gereja. Karena mereka menyikapi agama seperti seorang ilmuwan yang menghadapi katak di meja laboratorium, pada dasarnya mereka adalah pencari kebenaran. Mereka adalah pengamat yang teliti dan mencintai ilmu pengetahuan. Seandainya mereka setia terus mencari kebenaran, maka sebagai ilmuwan, mereka bukan hanya akan menemukan keindahan dalam gejala-gejala sains, atau apapun yang sedang mereka diskusikan, tetapi juga sebuah pola yang aneh, yang too good to be true untuk hanya dianggap sebagai kebetulan. Mereka akan melihat, apa yang dilihat orang Tingkat Kedua, tetapi dengan cara yang lain. Ketika orang Tingkat Kedua melihat aturan dan formalisme, maka orang Tingkat Ketiga yang setia mencari ini, akan melihat divine creativity dan mistik. Kalau mereka berada dalam posisi ini, mereka memasuki Tingkat Keempat. Ibrahim, Bapak semua Agama Langit, adalah contoh murni dari Orang Skeptis yang terus mencari. Pertama, dia menolak formalisme Agama Pagan ayahnya dan masyarakatnya. Kemudian dia mengamati alam dan mencari. Mengalami frustrasi, kemudian tercerahkan. Muhammad juga seorang skeptis terhadap paganisme dan masyarakatnya, kemudian merenung di Hira, dan tercerahkan. Bahkan Bunda Theresa pun, adalah seorang biarawati yang skeptis sebelum menemukan jalannya di Kalkuta. Gandhi adalah seorang hindu taat yang skeptis di Afrika Selatan, sebelum akhirnya tercerahkan dalam perjalanannya di India. Orang-orang Suci pada dasarnya adalah orang-orang Skeptis yang terus mencari. Yang menjadi pola umum sebelum mereka tercerahkan adalah kemampuan mereka menjaga kesucian hidup dan kesediaan mereka mengorbankan banyak hal untuk mencari jawaban Yang Sebenarnya.

Tingkat Keempat adalah “Mistik dan Komunal”… Mereka adalah orang-orang yang melihat bahwa pada dasarnya semua yang ada di langit terhubung dengan yang ada di bumi. Semua yang mati terhubung dengan yang hidup. Mereka melihat pola, bukan hanya rumusan. Orang pada tahap ini adalah orang-orang percaya bahwa hidup ini adalah misteri. Dengan itulah mereka bisa merasakan kerendahan hati, ketidaksempurnaan, dan interdependensi. Orang-orang pada tahap mistik tidak takut bila dirinya tidak dikenal, pencariannya tidak berhenti, pertanyaannya tidak terjawab, atau doa-doanya tidak dikabulkan. Dalam dunia sufi dikenal adanya para abdal, sufi-sufi penyamar. Idries Shah, yang menganggap cara terbaik memperkenalkan cara berpikir kaum Sufi adalah dengan cerita, menggambarkan Nasaruddin Hoja sebagai “the Mulla who is no Mulla, the fool who is no fool”. Mereka menyadari bahwa Tuhan memiliki tujuan untuk menciptakan sesuatu, dan karena menyadari keterbatasan pandangan mereka, mereka tidak mudah menghujat. Hanya merekalah yang bisa memahami apa artinya menjadi rahmat bagi seluruh alam. Ketika “how to simplify your life” menjadi sebuah pelatihan yang laris di Barat, orang pada tahap Mistik sudah menjalani hidupnya tanpa banyak attachment, forward, cc, bcc, bahkan link. John Bennet, seorang sahabat sekaligus murid Idries Shah, ketika ditanya apa yang didapatkannya selama berdekatan dengan Idries Shah, menjawab: “Freedom!”. (…) Not only had I gained freedom, but I had come to love people whom I could not understand.”

SIAPA MENGANCAM SIAPA DAN APA YANG BERBAHAYA DALAM TAHAP-TAHAP INI?
Tiga tahap pertama adalah orang-orang yang menyimpan perasaan terancam. Secara umum, orang-orang yang baru naik ke tingkat yang lebih tinggi merasa terancam oleh orang-orang setingkat dibawahnya karena masih belum yakin dengan tahap spiritualnya saat ini.

Orang-orang Anti Sosial mungkin tampak masa bodoh pada apapun, tetapi bila kepalsuan itu berhasil diterobos, akan tampak bahwa mereka adalah orang yang takut pada segala sesuatu. Orang-orang Anti Sosial memiliki harga diri yang amat rapuh. Yang demikian mudah terguncang ketika keinginannya tidak terpenuhi. Peck mengatakan bahwa kasus-kasus bunuh diri yang tidak terungkap di media massa umumnya dilakukan oleh Orang Anti Sosial. Psikologi Klinis mengatakan bahwa orang-orang yang bunuh diri adalah yang yang kecewa dan/atau marah pada dunia ini, atau Tuhan. Abdur Rahman Assudais, Imam Masjid Haram, dalam rekaman murattal Qur’annya, menangis terisak-isak hingga terputus membaca ketika sampai pada ayat yang mengatakan, “Katakanlah kepada hamba-hambaku yang telah menyia-nyiakan hidupnya, janganlah berputus harapan kepada kasih sayang Allah. Karena Allah mengampuni semua dosa. Allah sangat mengampuni dan menyayangi…”.. Dalam ribuan ayat yang dibaca AsSudais, sangat sedikit terekam beliau menangis demikian terbuka. Ayat ini terdapat pada Az-Zumar, sebuah surat yang banyak merekam bagaimana manifestasi krisis spiritual manusia dan perbantahan mereka dengan Tuhan. Amat mudah mendidik anak menjadi seorang yang anti sosial [dan kemudian menjadi psikopat): ejeklah dia terus menerus, ajarkan dia konsep "upah terbesar" bukan "kebaikan terbesar", jangan memberinya contoh cinta tulus, dan putuskan harapannya kepada Sesuatu Yang Maha Tinggi.

Orang-orang Formal tidak takut pada Orang Anti Sosial. Mereka justru menganggap orang-orang ini sebagai pendosa yang layak dikasihani dan dicintai. Yang menakutkan Orang Formal adalah Orang Skeptis yang menggugat kepercayaan dan ritual mereka, dan terutama Orang Mistik, yang mempercayai hal yang sama dengan mereka tetapi dengan kebebasan yang menakutkan. Orang Formal-lah yang membutuhkan seragam militer untuk organisasi keagamaannya, membutuhkan seragam tertentu untuk ke tempat ibadah, shaf tertentu di masjid dan bangku tertentu di gereja. Muhammad (seberapakah jauh jarakku darinya?) tercatat pernah melarang seorang muslim memilih satu tempat tertentu secara terus-menerus di dalam masjid, supaya mereka tidak menjadi sombong. Orang Formal akan sulit menerima Orang Mistik yang beribadah tapi dengan penampilan yang berbeda, yang menolak seragam seperti yang mereka kenakan.

Orang Skeptis tidak terancam oleh Orang Anti Sosial yang mereka anggap penyakit masyarakat. Juga tidak oleh Orang Formal yang mereka anggap bodoh dan jumud yang tidak membaca sejarah, buku-buku yang dilarang, atau terobosan ilmu pengetahuan. Tetapi mereka merasa terancam oleh Orang Mistik yang mencintai pengetahuan, membaca sejarah, bisa berbicara dengan orang-orang yang berbeda, yang beragumentasi dengan tertib dan sistematis, tetapi masih tetap percaya pada akhirat, neraka, surga, dan Pengadilan Terakhir. Beberapa waktu yang lalu, Majalah TIME mempertemukan dua orang ilmuwan ternama untuk berdiskusi mengenai ide tentang Tuhan dalam sains. Ilmuwan yang atheis, sesudah beberapa saat, secara terbuka meragukan kredibilitas keilmuan ilmuwan theis yang masih mempercayai Tuhan dan beribadah, padahal orang yang diragukannya adalah ilmuwan yang melakukan pemetaan genom manusia.

Yang paling "berbahaya" dari tingkat-tingkat ini adalah betapa terampilnya manusia memilih topengnya. Kita mungkin akan menemukan seorang Penjahat Anti Sosial yang mengajak anda berdebat tentang kebenaran seperti seorang Ilmuwan Skeptis atau menegaskan cinta kemanusiaan seperti seorang Mistik. Atau Orang Skeptis yang menolak beribadah tetapi juga menolak segala argumentasi yang tidak empiris-positivistik, yang berarti ia sebetulnya memeluk sains sebagai "agama formal"nya. Atau seorang yang hanya menjadi Mistik ketika di pengajian atau misa tetapi menjadi Skeptis di pekerjaannya, dan menjadi Anti Sosial terhadap istrinya. Atau mungkin kita menemukan Orang Formal yang rajin datang ke tempat ibadah tetapi sebetulnya skeptis pada agamanya. Sangat banyak, terlalu banyak, contoh bagaimana orang dengan semaunya memeluk agama tetapi menolak untuk dipeluk agama. [Aku bersyukur, Indonesia yang disebut negara beragama ini memberikan obyek pengamatan yang amat kaya tentang variasi ini.]

Karena demikian rumitnya skema kerohanian maka harus diakui bahwa kita tidak bisa yakin apakah kesimpulan-dari-luar kita tentang tingkat kerohanian seseorang sungguh-sungguh pasti. Spiritualitas itu berkaitan dengan hubungan diri kita yang terdalam dengan sesuatu Yang Tertinggi. Hanya kita yang tahu, dan kesediaan untuk jujur amat membantu.

PERIKSALAH PENJARA ANDA
Bagiku, sebelum berbicara tentang Ketuhanan: mana hak Tuhan mana hak Manusia dan siapa yang sesat dan tidak sesat. Sebelum membela satu golongan dan menghujat golongan yang lain atas nama demokrasi, hak asasi manusia, atau penistaan agama…tidakkah sebaiknya setiap orang memeriksa terlebih dahulu tingkat kerohaniannya masing-masing?

Carl Gustav Jung, psikolog awal yang dianggap paling sungguh-sungguh mengakomodasi spiritualitas dalam teorinya mengatakan bahwa setiap orang memiliki shadow. Sebuah bayangan hitam di belakang benda terang benderang yang kita tunjukkan di depan publik. Bayangan hitam itu adalah narapidana yang masing-masing kita memenjarakannya dan tidak mengizinkannya untuk tumbuh menjadi lebih matang. Sebelum bicara tentang apa yang murni dan apa yang kotor, baiklah kiranya bila setiap kita melakukan pengakuan dosa terlebih dahulu. Seperti Yesus yang menantang orang-orang yang melempari seorang pelacur, Maria Magdalena, untuk menunjukkan siapa yang dirinya murni. Yesus, menurutku, bukan ingin menafikan dosa sang pelacur, dia hanya ingin agar setiap orang rendah hati. Katakan dan tegakkanlah kebenaran, tapi tetaplah tulus dan rendah hati.

Kalaupun akhirnya kita harus terlibat dalam perdebatan tentang hal-hal seperti itu, sebelum menyatakan apapun, marilah kita periksa apa yang kira-kira akan dilakukan oleh orang-orang suci dalam agama kita masing-masing.[Aku tidak tahu siapa yang dapat diperiksa oleh Orang Skeptis, karena mungkin selain tidak percaya pada agama terlembaga, mereka juga tidak percaya pada orang-orang suci sebuah agama. Atau mungkin mereka dapat memeriksa Konfusius, Marcus Aurelius, atau Aristoteles]. Periksalah apa yang dilakukan Buddha, Yesus, dan Muhammad, seandainya mereka berada dalam posisi dan situasi saat ini. Kemudian kalau ternyata kita masih terlalu bodoh untuk membayangkan tindakan, pernyataan, dan sikap mereka, menurutku, sebaiknya kita tidak usah mengatakan apapun. Supaya kita tidak merusak warisan kebaikan dan jalan hidup menuju Tuhan yang sudah mereka tinggalkan. Katakan saja, “Aku bodoh.”

Epilog:

Agar terdapat pemahaman yang lebih pribadi, aku mendorong untuk membaca langsung: M. Scott Peck M.D, “Perjalanan Rohani Tanpa Akhir”, Prenhallindo, 2001. Buku ini sulit sekali dicari, mungkin out-of-print. Kalau memiliki kesempatan, lebih baik membaca buku aslinya, “Further Along The Road Less Traveled”, Simon and Schuster, 1993. Buku ini merupakan kelanjutan dari “The Road Less Traveled” oleh penulis yang sama. Terjemahan buku pertama ini lebih sulit lagi dicari, mungkin lebih out-of-print. Bila di Jakarta, mungkin harus menggeledah Jl. Kwitang atau Pasar Senen (hati-hati!). Di Bandung di salah satu sudut Pasar Palasari. Di Jogja ke Pasar Apollo. Di Surabaya Jl. Semarang (kalau belum digusur). Di Malang ke Pasar Wilis. Semuanya adalah pusat buku baru yang dibajak, buku lama yang dari dulu tidak laku, atau buku bagus dekil yang membosankan pemilik sebelumnya. Selain itu, ada beberapa sumber yang berisi pemikiran Idries Shah. Sebagai pengantarnya dapat dilihat di wikipedia.

4 Responses to “Persoalannya Bukan Siapa Tuhannya, Tapi Siapa yang Bertanya…”


  1. Merendahlah agar tinggi dipandang seperti bintang ^_^
    Mantaap…

    Tengkyuu info tempat jual buku-nya Pak…

  2. Enuretic Says:

    Somehow i missed the point. Probably lost in translation :) Anyway … nice blog to visit.

    cheers, Enuretic!

  3. unitarian Says:

    mencerahkan, a must read for all the fanatics,fools and skeptics

  4. budi Says:

    saya suka tulisannya Mas, melihat keberagamaan dengan cara cerdas..


Leave a Reply