He deals the cards as a meditation
And those he plays never suspect
He doesn’t play for the money he wins
He doesn’t play for respect

He deals the cards to find the answer
The sacred geometry of chance
The hidden law of a probable outcome
The numbers lead a dance

I know that the spades are the swords of a soldier
I know that the clubs are weapons of war
I know that diamonds mean money for this art
But that’s not the shape of my heart

He may play the jack of diamonds
He may lay the queen of spades
He may conceal a king in his hand
While the memory of it fades

Sting, “Shape of My Heart”, Ten Summoner’s Tales, 1993

Dalam sebuah kutipan wawancara yang kudengar di sebuah radio di Malang, suatu waktu Sting ditanya tentang lagu ciptaannya yang menurutnya paling mewakili siapa dirinya. Sting menjawab “Shape of My Heart”. Deretan bait di atas adalah bagian terbanyak dari lirik lagu itu. Dua bait lagi, yang berisi tentang cinta, dan sikap menghadapi para pengkritik kutinggalkan.

Lagu ini adalah absurd dalam cerita dan tokohnya. Apakah hal terbaik yang bisa diharapkan dari seorang pemain judi kartu, selain dari keinginan mendapatkan uang sebanyak-banyaknya dengan mengandalkan keberuntungan dan nasib? Sementara yang buruk dalam perjudian begitu mendasar: Membutuhkan kerja sama paling sedikit dua orang yang sebenarnya tidak punya niat baik terhadap satu sama lain. Relasi beberapa penjudi dengan atau tanpa seorang bandar adalah sejauh yang satu bisa berharap dapat menghancurkan yang lain. Dengan mengandalkan dua cara: muslihat dan atau keberuntungan. Kesukaan melihat orang lain kalah demi kemenangan kita merupakan mengapa ada tawa di arena judi. Tawa seperti ini digabungkan dengan harapan kepada keberuntungan dan muslihatlah yang membuat judi menyenangkan. Dan konon kabarnya di kasino, kesenangan ini dilengkapkan dengan tidak dipasangnya jam dinding dan tidak bisa dibedakannya antara malam dengan siang di ruang-ruangnya, agar semua orang lupa waktu.

Tapi apa yang diceritakan Sting tentang seorang pemain kartu dalam lagu itu jauh berbeda. Aku bahkan tidak yakin apakah yang dilagukannya memang tentang seorang penjudi seandainya di situ tidak disebutkan tentang uang. Sehingga kemudian berjudi, bukan hanya menjadi persoalan finansial, tetapi juga eksistensial.

Menurutku, siapapun akan menjadi seorang eksistensialis ketika dia mengatakan “Aku memiliki bukan yang tampaknya aku punyai. Aku mendapatkan bukan yang tampaknya aku inginkan. Aku mencapai bukan yang yang tampaknya aku selesaikan. Aku memenangkan bukan yang tampaknya aku pertaruhkan.”

Hanya manusia yang bisa menyimpan pikiran seperti ini. Ini bukan soal kecerdasan generik yang dapat dipelajari dan dilatihkan pada simpanse, lumba-lumba, burung betet, atau Asimov . Ini adalah persoalan kemampuan manusia untuk keluar dari kotaknya, kemudian melihat dirinya dari sisi yang berbeda. Melemparkan dirinya ke depan sehingga tidak berakar di masa kini, atau melemparkan dirinya ke masa lalu seolah-olah tidak pernah sampai ke zaman ini. Konon itulah yang disebut eksistensi. Hanya manusia yang bisa membedakan apa esensi dan apa eksistensi, dan kemudian adalah tugas abadi untuk merenungkan itu sepanjang hidupnya. Secara sederhana, kita bicara tentang makna.

Kemudian teringatlah aku tentang para Abdal. Istilah ini aku baca dalam sebuah anekdot kaum Sufi belasan tahun yang lalu. Seingatku, diceritakan dalam kisah itu tentang seorang Guru Sufi yang di belakangnya mendapat kritik seorang Murid Sufi karena masih sibuk bekerja di pasar, yang dianggapnya terlalu profan karena mengejar duniawi. Guru Sufi lain yang mendengar kritik itu kemudian menyebutkan bahwa orang yang dia kritik adalah salah seorang dari para Abdal, Sufi Penyamar.

Abdal sendiri tampaknya merupakan kata bentukan dari badala, kata Arab, yang artinya mengganti. Bukan mengganti dalam arti hanya menukar sesuatu secara fisik, tetapi juga yang lebih abstrak. Lebih sederhana mungkin adalah badal, sebuah istilah dalam tata bahasa Arab, yang menunjukkan fungsi sebuah kata untuk mewakili kata yang lain. Kata “rasul”, dalam banyak teks merupakan badal bagi “Muhammad”. Badal berbeda dari kata ganti. Kata ganti amat terbatas dan baku, sementara badal adalah semua kata yang dapat dihubungkan dengan kata lain, untuk “mewakili”nya. Dalam penggunaan yang lebih tinggi, badal dapat hampir mirip seperti metafora—sebuah kata atau frasa yang sekilas tidak berhubungan, tetapi dipilih untuk mewakili sebuah ide. Konon kabarnya, kemampuan menggunakan metafor menunjukkan, bukan hanya kemampuan bahasa, tetapi juga pemahaman tentang keterhubungan gejala yang di mata orang awam, terputus. Salah satu ciri cluster orang-orang kreatif, kata riset Psikologi, adalah kesenangan mereka menggunakan metafora dalam menjelaskan idenya. Atau terinspirasi oleh sesuatu dengan cara yang metaforis.

Sebuah kisah lain yang mengambarkan para Abdal adalah ketika seorang Guru Sufi ditanya tentang berapa jumlah yang harus dibayar seorang murid untuk pelajaran sufi yang diberikannya. Setelah sang Guru menjawab, dia mendapat kritik keras karena meminta bayaran yang terlalu mahal, yang dianggap tidak sesuai dengan pandangan kaum Sufi tentang dunia. Guru itu kemudian menjawab, “Nak, bagimu uang adalah kenyataan, bagiku ia hanyalah tanda”. Bagiku (Nash), jawaban “jumlah” selalu cocok untuk pertanyaan “berapa”, entah kita suka atau tidak dengan angkanya. Yang menjadi persoalan dalam cerita ini adalah bahwa ketika si penanya menganggap interaksi yang terjadi adalah transaksional, sayangnya, dia tidak menawar harga, tetapi mengkritik terlalu jauh. Karena belum memahami apa yang dia miliki dan apa yang dimiliki orang yang dianggapnya sebagai Sang Pedagang itulah maka kemudian, “bagimu kenyataan, bagiku hanya tanda”.

Tapi cerita yang paling kuat untuk dihubungkan dengan Sang Pemain Kartu yang diceritakan Sting adalah ketika seorang Guru Sufi yang mengenakan jubah yang mewah dikritik oleh muridnya karena seperti menunjukkan sikap bermegah-megah. Guru Sufi itu kemudian berkata, “Yang di luar ini untukmu”, kemudian dia menyibakkan jubah luarnya untuk menunjukkan jubah dalamnya yang jelek terbuat dari kain kasar, lusuh dan tua, dan berkata, “Sementara yang di dalam ini, untukku”.

Mendengarkan Sting dan membaca kisah para Sufi Penyamar, apakah kemudian yang menjadikan kita seorang profesional dalam bekerja? Apakah yang disebut Kaum Profesional, dan apakah Profesionalisme? ( keduanya dengan “P” besar)

Sebuah buku, True Professionalism, setelah menguraikan berbagai macam kriteria profesionalisme sejati, mengatakan bahwa satu-satunya jawaban yang memiliki nilai prediktif amat tinggi untuk meramalkan kecenderungan bersikap profesional—dalam arti sejauh hingga to make a difference, adalah ketika seorang kandidat mengatakan, “Saya ingin menolong orang lain”, ketika ditanya “Apa yang Anda inginkan dengan pekerjaan Anda?”

Sedangkan aku, aku hanya bisa mengatakan bahwa semuanya adalah kontinuum. Atau aku mungkin hanya ingin mengatakan, “Kita harus berhenti meyakinkan orang lain bahwa, ‘Saya bekerja bukan hanya demi uang’—bila kita tidak berusaha (dan bisa) sungguh-sungguh menemukan hal yang berharga lebih dari uang, dalam apa yang kita kerjakan”. Supaya kebaikan tidak hanya menjadi jargon. Supaya kata-kata yang baik tidak menjadi terlalu murah hingga kita sendiri tidak percaya pada apa yang kita katakan.

Yang mematahkan hati menurutku adalah bahwa kita sering tidak jujur dan mengenakan terlalu banyak topeng ketika berbicara tentang uang. Kita terlalu banyak memasang syarat untuk bahagia, terlalu larut dalam keinginan akan hal-hal yang “lebih”, terlalu suka membanding-bandingkan kesenangan satu dengan kemudahan yang lain, terlalu takut kehilangan pijakan materialistik, dan terlalu banyak punya preferensi. Semuanya ini terlalu terlalu jelas hingga, [apakah aku salah bila mengatakan] pernyataan “Saya bekerja bukan hanya demi uang”, menjadi terdengar sangat konyol.

Kita, secara sederhana, terlalu ingin diberi hadiah, pujian, dan penghargaan.

Inilah yang kemudian mengurangi keberanian kita menempuh perjalanan mencari “the sacred geometry of chance/ the hidden law of probably outcome” dalam apa yang kita anggap sebagai profesi kita. Muhammad (menyedihkan mengingat jauhnya jarak batinku darinya), menunjukkan apa yang dimaksud ketika pada suatu kali dia menjanjikan jubahnya sebagai hadiah untuk sahabat-sahabatnya yang dapat shalat dengan hati dan pikiran terjernih. Ali bin Abi Thalib awalnya mengklaim hadiah itu karena merasa shalatnya amat jernih. Tapi Muhammad kemudian memberinya pelajaran berharga bahwa dengan hanya menginginkan jubah itu sebagai hadiah saja pun, Ali sudah mengganggu kejernihan hati dan pikiran sendiri dalam shalat.

Kegagalan kita mencari sesuatu yang lebih murni dalam apa yang kita kerjakanlah yang menurutku membuat kita kehilangan joyfulness, dan gagal menemukan flow. Sebuah konsep Psikologi yang menggambarkan seseorang yang hanyut dalam apa yang dikerjakannya, yang seolah lepas dari dimensi ruang dan waktu, dan memiliki enerji yang tak habis-habisnya. So intense, so effortless. Mereka-mereka yang berada dalam fase flow, tidak lagi melakukan sesuatu karena perintah, batas waktu, kuota, target, takut salah, atau bahkan ingin kesempurnaan. They just do it and flow in it. Bagian terpenting dari tugas psikolog di Manchester United FC, salah satunya adalah membantu para pemain memasuki fase flow ini dalam menghadapi kompetisi yang ketat. Peak performance itu, di level kompetisi yang demikian tinggi seperti English Premier League, katanya, bukan lagi persoalan fisik apalagi teknik, tapi lebih kepada mental. Kreativitas itu pun, bahkan pada tingkat saintis yang amat tinggi, yang dihadiahi Nobel, misalnya, konon bukan lagi persoalan kecerdasan, dana, atau di laboratorium mana ditemukan, tapi persoalan mental.

Akhirnya, tidak semua kita akan hidup sebagai orang kaya atau namanya dicatat dalam sejarah. Mungkin beberapa di antara kita nanti, hanya dikenang sebagai a company man. Seseorang yang dikenal sebagai pegawai berprestasi, berkarir dan berkedudukan bagus, yang setelah kita mati sakit-sakitan karena bekerja amat keras untuk perusahaan [hingga tidak pernah terpikir untuk belajar menuliskan puisi untuk orang-orang yang setia pada kita], meja kita segera dibersihkan untuk ditempati oleh a company man yang lain, yang sama berprestasi, berkarir dan berkedudukan bagusnya seperti kita. Padahal air mata orang-orang yang mencintai kita belum kering karena kesedihan.

Sekuat apapun kita ingin dikenal sebagai orang baik, sebanyak apapun popularitas yang kita harapkan, atau sebesar apapun kita menjadikan uang sebagai penawar bagi semua waktu, kreativitas, kecerdasan, dan kerja keras kita, kita harus mencari hal-hal yang lebih tinggi dari itu. Mencari, dan berusaha menemukannya seumur hidup kita, bila perlu dengan melata di muka bumi ini, sebelum Kehidupan dan Tuhan, dengan caraNya sendiri, meminta kita menukar apa yang sudah kita anggap sebagai upah kerja keras kita, dengan sesuatu yang sejati, tetapi belum pernah kita hargai sebelumnya.

Agar lebih mudah, ingatlah (Nash!) seorang Pemain Kartu yang Abdal, yang berhenti menjadikan uang, dan rasa hormat orang lain sebagai sumber kegairahannya, dan menggantinya dengan sebuah perjalanan pencarian akan hal-hal yang sakral dan tersembunyi dalam hidup ini.

Epilog: Sting dikenalkan padaku oleh seorang mahasiswa Teknik Industri ITB 1993. Anak-anak Ikatan Mahasiswa Muslim Asal Medan di Bandung waktu itu, memanggilnya Roni Cina—wajahnya memang agak oriental, tapi bukan Cina. Belakangan aku dengar dia menjadi dosen di Universitas Diponegoro Semarang. Awalnya dia bilang, “Mau dengar lagu yang musiknya cuma Zippo dibuka tutup?”—itu lagu It’s Probably Me

“Shape My Heart” adalah lagu Sting pertama yang aku sukai. Mungkin hampir bersamaan dengan “It’s Probably Me”. SMH sangat sederhana dalam musik: bagian utama hanya diiringi gitar akustik dan ketukan sesuatu yang ritmis. Pada bridge dan sedikit diujung lagu, ada suara flute. [Tapi karena aku tidak ahli membeda-bedakan suara alat musik, jangan terlalu percaya sebelum mendengarnya sendiri]. Kesederhanaan musiknya membuat lagu ini terasa dalam. Aku membayangkan seseorang yang duduk di sebuah meja bundar di sudut sebuah rumah minum yang penuh dan riuh rendah. Yang aneh adalah setiap kali aku memandang ke arahnya, semua gerakan kasar di ruangan itu menjadi halus, semua teriakan menjadi perbincangan yang ramah, dan waktu terasa semakin subtil.

Aku masih mendengarkan lagu ini beberapa kali dalam seminggu, kira-kira 12 tahun setelah mendengarnya pertama kali. Sting adalah mantan frontman The Police. Konsisten dengan “Shape of My Heart”, Sting menganggap bahwa penilaian orang terhadapnya berbeda dengan dirinya yang sebenarnya. Dengan heran, dia mengakui bahwa lirik lagunya dipsikoanalisis secara amatiran, sementara kiritikus menganggap lagunya mengandung banyak metafor, semata karena dia pernah disebut sebagai King of Pain dalam musik. Mungkin karena itu juga, setelah selesai menyaksikan konser albumnya yang dianggap paling murung Soul Cages (sebelum Ten Summoner’s Tales), Eric Clapton menghampiri Sting dan mengatakan bahwa ia berharap Sting akan menangis di atas panggung. Sting menjawab dengan jenaka,”Untuk melihat itu, anda harus membayar lebih banyak”. Selebihnya di-googling saja.

One Response to ““Shape Of My Heart” Dan Para Abdal: Tentang Apa Yang Kita Cari …”

  1. klickkie Says:

    interesting. for it’s one of my favorite songs either :)


Leave a Reply