==Teks berikut ini adalah pesan lama yang pernah kukirimkan ke salah satu milis pada Sat Sep 16, 2006 4:22 pm di salah satu milis aktivis masjid kampus di Bandung==

Mei 2005. Sebuah pesan berisi laporan pandangan mata tentang diskusi buku di salah satu Masjid di Jakarta, dimasukkan ke salah satu milis yang saya ikuti. Berikut ini komentar lengkap saya terhadap pesan tersebut.

Beberapa minggu yang lalu (?!) di milis ini diforward pesan yangberisi pelaknatan terhadap Jaringan Islam Liberal. Ceritanya berawaldari sebuah diskusi buku. Pesan asli tampaknya ditujukan sebagai laporan pandangan mata tentang kejadian itu, tapi penulisnya kemudian
menambahkan beberapa kalimat pelaknatan. Aku tidak tahu mengapa pesan-pesan pelaknatan terhadap sebuah kaum dikirimkan ke milis ini. Tapi inilah komentarku:

Aku terkesiap bahwa di antara kaum Muslimin, masih ada juga Jama’ah Pelaknat. Jama’ah yang sehabis berdebat tentang sesuatu–yang perdebatan itu, secara fisik dicampur sorak-sorai, tepuk tangan, tuding-tudingan tangan, dan secara psikologis dicampur ujub dan takabbur karena jumlah pendukung yang lebih banyak–kemudian merasa berhak melaknat orang lain.

Bagiku, Jama’ah Pelaknat muncul lebih karena KECENDERUNGAN KEPRIBADIAN SEBAGAI PELAKNAT, dari pada karena keluasan ilmu dan kearifan dalam memahami Islam. Anda tahu bahwa beberapa orang, entah agama apapun yang mereka peluk, akan tetap menjadi seseorang yang suka melaknat orang lain. Tidak peduli apakah ilmu dan pengalaman beragama mereka luas atau sempit, tidak peduli apakah ilmu dan pengalaman orang yang mereka tuding luas atau sempit, orang-orang ini akan tetap melaknat.

Kalau mereka diajak berdikusi tentang agama, mereka hadir dengan pretensi bahwa KEBENARAN ADA DI SINI, dalam argumentasi yang mereka tulis, bahkan dalam jumlah orang yang mereka bawa. Mereka hadir dengan niat seorang pembantai. Goenawan Mohammad pernah menulis dalam catatan Pinggirnya di Majalah TEMPO, tentang orang-orang yang selalu membutuhkan korban untuk bisa merasa dirinya berharga. Mereka ibarat Tarzan yang setelah membunuh singa, masih merasa perlu menginjak korbannya, sambil berteriak kemenangan. Para Pelaknat ini, merupakan derivat yang lebih kompleks dari para Pembukti. Para Pembukti, bukan hanya dalam beragama, tapi juga sepanjang hidupnya, selalu merasa perlu membuktikan sesuatu pada orang lain–bahkan dalam tingkat yang lebih patologis. Kalau orang lain itu tidak ada, mereka merasa terus dituntut untuk membuktikan pada dirinya sendiri–tentang apapun. Para Pembukti selalu merasa perlu membuktikan bahwa mereka lebih kuat,
lebih cerdas, lebih mampu, lebih-lebih-lebih… Mereka dibesarkan (atau membesarkan diri) dengan cara pandang yang curiga terhadap hidup dan manusia. Mereka percaya: JIKA DAN HANYA JIKA MEREKA BISA MENANG, BARULAH MEREKA BERHARGA. Syarat perlu dan cukup bagi mereka untuk hidup adalah menang dalam kompetisi. Ketika mereka berada dalam ranah agama, yang memang membicarakan surga-neraka, tersesat-terselamatkan, malaikat-syetan, dan yang terpenting: TERLAKNAT DAN TERBERKATI, maka kita akan melihat para Pelaknat yang paling sophisticated di kelasnya. Yang membuat mereka paling canggih adalah karena mereka memiliki fitur PLAYING GOD. Berdiskusilah dengan mereka tentang agama, kemudian mereka akan menekan tombol enter, dan akan keluar kesimpulan apakah anda akan di surga atau neraka. Mereka sudah siap dengan semua jawaban terhadap pertanyaan, mereka sudah memiliki semua afirmasi untuk semua keragu-raguan yang anda temukan dalam Islam…bukan karena mereka para nabi dan rasul, tapi karena mereka BERMAIN SEBAGAI TUHAN. Ya, alam pra-sadar para Pelaknat selalu mengandaikan: SEANDAINYA AKU MEMILIKI NERAKA DAN SURGA, KEMANA ORANG INI AKAN AKU MASUKKAN?–dan bukankah katagori paling sederhana untuk memisahkan surga dan neraka adalah TERLAKNAT VS TERBERKATI?

Bila anda ingin menguji apakah kaum Pelaknat merupakan fungsi eksponensial dari psikologi pelaknat, ataukah fungsi eksponensial dari pemahaman agama, coba tanyakan pada orang-orang ini (yang dapat diindikasikan dengan mudah dari pesan-pesan pelaknatan yang mereka tulis sendiri, atau mereka forward, tentang sebuah ide atau kelompok agama lain–dalam milis ataupun sms) pertanyaan-pertanyaan sederhana: Seberapa lama mereka mempelajari agama ini? Seberapa banyak ilmu alat, ilmu ushul, dalam agama ini yang mereka pahami? Seberapa rentang sejarah Islam yang mereka pelajari? Pernahkah mereka mempelajari agama ini dalam bahasa dan kultur sumbernya? Sejak kapan mereka mulai merasa membutuhkan memahami dan mengalami agama lebih dalam? Krisis apa yang pernah mereka alami dalam beragama? Seberapa heterogen pemeluk agama yang pernah mereka kenal dekat?

Aku ingin membandingkan Jama’ah Pelaknat ini dengan orang-orang yang berdiskusi dengan pretensi KEBENARAN ADA DI SANA–di sebuah tempat yang belum kita kenal, terra incognita. Atau di atas kepala kita, yang “…seandainya kita bersedia menjinjitkan sedikit saja kaki kita, mungkin kita akan dapat merengkuhnya”, begitulah pernah ditulis Joe, rekan seangkatan Fahmi Munsah di Salman. Para PENCARI ini tidak pernah merasa memiliki jawaban final, analisis final. Yang ada adalah PERTANYAAN DAN PERJALANAN. Bukan jawaban final yang mereka cari, tapi ketenangan batin. Ketenangan batin yang bukan didapat dari berbagai argumentasi dan perdebatan, tapi melalui eksperimen- eksperimen dengan hidup dan kebenaran. Kalau kita bertemu mereka, mereka tidak akan menawarkan sebuah jawaban pada kita, mereka justru akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menjadi cermin bagi kita. Aku ingat, Warren Bennis, tahun 1989, resi manajemen itu pernah menulis tentang krisis kepemimpinan di Amerika Serikat, katanya: KITA MEMBUTUHKAN SESEORANG YANG CERDAS, YANG BERSEDIA BERBAGI KECERDASANNYA, DAN KETIKA MENDENGARKAN PIKIRAN-PIKIRANNYA, KITA AKAN MERENUNGKAN HIDUP KITA.

Para PENCARI tidak akan mengacungkan telunjuknya ke arah kita, tapi ke sebuah tempat di ujung sana, yang tidak bisa kita lihat, tapi suara hati kita mengatakan dari sanalah kita datang, dan kesanalah kita akan kembali. Dari pada menawarkan sebuah tempat untuk berteduh bagi jiwa keagamaan kita yang kekanak-kanakan yang penakut dan dependen, mereka justru menawarkan sebuah perjalanan yang harus kita tempuh sendiri, untuk menemukan betapa pentingnya menghadapi rasa takut, betapa pentingnya menemukan tempat bergantung SEJATI, dan apa arti kekalahan yang sebenarnya.

Aku ingin menegaskan betapa pentingnya perjalanan bagi orang-orang ini. Mereka tidak pernah berhenti karena mereka digerakkan oleh pertanyaan-pertanyaan abadi. Alih-alih berusaha membuktikan dirinya benar, mereka justru sibuk mengekspresikan diri, sehingga akan menghormati ekspresi diri anda. Karena mereka MUSAFIR SEJATI, maka mereka akan menghormati perjalanan anda, akan dengan sabar mendengarkan tempat-tempat anda pernah berhenti dan singgahi, cerita tentang saat-saat anda tersesat, tentang kepedihan yang anda alami ketika kehilangan bekal sementara perjalanan anda masih jauh, dan tentu saja mengenai segala sesuatu yang harus anda buang karena akan menyulitkan perjalanan hidup anda. Kalau mereka menemukan sesuatu yang ganjil dalam pikiran dan tindakan anda, alih-alih melaknat, mereka justru bertanya: INIKAH ANDA YANG SEBENARNYA? INIKAH ANDA YANGANDA INGINKAN UNTUK DIKENANG ORANG LAIN KETIKA MEREKA MELIHAT BATUNISAN ANDA?

Dengan semua ini, merekalah reprepsentasi para Nabi. Para Nabi merupakan teladan bagaimana seorang Pencari Sejati melakukan semuanya–ingatlah pencarian Ibrahim, perjalanan Musa, khalwatnya Muhammad. Para Nabi adalah manusia biasa yang sesekali diingatkan karena salah mengambil keputusan. Para Nabi adalah orang-orang yang menentang zamannya. Para Nabi melawan apa yang dianggap tradisi. Tapi sekalipun begitu, mereka tidak pernah BERMAIN SEBAGAI TUHAN. Mereka terlalu mencintai manusia sehingga tidak mampu melaknat, sekalipun mereka terancam sepanjang hidupnya. Mereka diikuti, menurutku, bukan karena argumentasi-argumentasi dan menang dalam perdebatan, tapi karena mereka membantu kita dalam perjalanan menemukan makna hidup. Akuilah bahwa Muhammad (Ya Allah, sentuhkanlah hidup kami dengan hidupnya) adalah seorang miskin yang gelisah, yang menurut riwayat, masih meratapi ummatnya ketika beliau menarik dan menghela nafas kematiannya. Karena itulah para nabi BIGGER THAN LIFE. Muhammad dicintai, ditangisi, diminta hadir dalam mimpi-mimpi, seribu lima ratus tahun setelah kematiannya, BUKAN KARENA KITA MENEMUKAN CATATAN BAHWA BELIAU MELAKNAT ORANG-ORANG YANG BERBEDA PANDANGANNYA.

Waktuku sudah habis… aku berhenti di sini

Leave a Reply