Jadi sekarang terbukalah sudah bahwa ini sebetulnya (setidaknya begitu) bukan persoalan sah-tidak sahnya pernikahan. Bukan soal Fiqih Munakahat. Bukan soal Islamik. Hell to MUI!
Bukan pula soal anak yang dipekerjakan. Bukan soal Hak-hak Anak yang dirampas. Apalagi Human Trafficking..Muke lu jauh! Hell to Komnas Anak!

Ini persoalan C-I-N-T-A, Bung! Sayup-sayup dari Wiltshire, Sting menyanyikan: “Love Stronger than Justice”…sebuah lagu yang sekonyong-konyong menjadi ironi di rumah Pujiono Who? waktu Seorang Seto datang ke rumahnya dan dengan alasan demi keadilan ingin membebaskan seorang anak perempuan yang mengaku cinta laki-laki yang 10 tahun lebih tua dari ayahnya.

Kemudian ada lagi Farid Bani Adam a.k.a Farid Hardja waktu masih muda beberapa dekade lalu dari Bandung bersenandung tentang Karmila, “…kau berulang tahun kutuang minuman ke dalam gelas, pada saat itu kutau usiamu baru sebelas…tak kuduga kau balas cintaku, penuh kasih, bagai ‘rang dewasa…usia muda tak tampak padamu…dikau, yang terakhir…” Di akhir tahun 2008, Farid Hardja jadi terdengar seperti seorang laki-laki yang terlalu mabuk atau terlalu besar kepala oleh cinta, karena sebelum Seorang Seto datang, Pujiono Who? sudah merepet tentang dua rencana pernikahan berikutnya: 7 tahun dan 9 tahun. Ulviana Siapa Itu bukan Karmilanya yang terakhir.

Awalnya, sudah agak mengerenyit kening melihat seorang laki-laki setengah umur membual tentang ambisinya mencari seorang calon manajer dari kalangan anak-anak perempuan yang belum berulang tahun ke-12, kemudian akan membuat anak itu menguasai dunia bisnisnya di usianya yang ke 21. Dan agar memenuhi ajaran agama, anak perempuan itu dinikahi saja sekalian. Too good to be true… itulah yang disebut bualan.

Tapi yang amat membuat ingin muntah adalah bagaimana Ibu Suri Aisyah, istri Nabi Kekasih Allah, Muhammad [cinta, rindu, dan terima kasih baginya], di bawa-bawa dalam kasus ini, disorong-sorongkan dalam bentuk sebuah buku ke depan kamera televisi. Melihat seorang laki-laki snob memamerkan mobil-mobil mewahnya dan akhirnya membawa reporter televisi beserta kamerawannya keliling-keliling di jalan raya dengan korvet mahal merek whatever, kemudian mengklaim meniru pernikahan seorang Nabi—yang tidak pernah memikirkan harta dalam hidupnya dan memilih untuk hanya mewariskan kehidupannya an sich bagi orang-orang sesudahnya, sebetulnya sudah cukup untuk membuat seorang bertipe Umar bin Khattab menumpahkan darah atas nama kehormatan Nabi!

Yang SAAT INI sungguh-sungguh berani menghadapi orang seperti ini: Kaya, Agamania* sambil tetap mempertahankan syahwat yang unik dan berapologi: “Ustad juga manusia”, tampaknya justru yang tidak terlalu peduli pada agama. Tentu saja tidak perlu sungguh-sungguh tidak peduli—cukuplah yang berpendapat agama itu urusan pribadi. Orang-orang yang tidak pernah menjadikan agama sebagai argumentasinya ini yang justru mau repot-repot datang ke Pujiono Who? mengurus nasib anak perempuan di bawah umur yang dinikahinya.

Begitulah terasa mengerenyit lagi kening ketika melihat Seorang Seto, yang bukan ulama, menasehati seorang yang memasang “syeh” di depan namanya, tentang hak-hak anak perempuan dan bagaimana memperlakukan mereka sebaiknya. Seolah-olah ingin menunjukkan bahwa inilah seorang pemilik pesantren yang ternyata masih juga tidak bisa mengendalikan syahwatnya sendiri. Seorang Seto tidak pernah bersisi-sisian dengan harakah Islam tertentu, demi menegakkan ajaran Islam di muka bumi ini, tapi itulah yang dilakukanya terhadap seorang pemilik pesantren.

Jadi kalau Seorang Seto sampai harus turun tangan menasehati seorang syeh tentang akhlak terhadap anak perempuan, siapa yang ditampar wajahnya sebenarnya? Kenapa bukan Hasyim Muzadi dikawal Pagar Nusa yang ke sana? Kenapa bukan Dien Syamsuddin diantar Tapak Suci? Apa kabar Abdurrahman Wahid? Apa kabar Abdullah Gymnastiar? Apa tidak bisa pengasuh pondok pesantren dinasehati oleh pengasuh pondok pesantren yang lain saja? Apa Undang-Undang Perkawinan itu bukan para ulama Indonesia yang dulu menyusun dan memverifikasinya demi kepentingan umat Islam Indonesia? Apa lebih seksi bagi tokoh-tokoh agama di sini untuk bicara dan bicara dan bicara tentang nasib bangsa dibanding bertindak jelas dan tegas demi nasib seorang anak perempuan in flesh and blood?

Dari mengerenyitkan kening saja, akhirnya sesaklah napas melihat betapa menakutkannya bila di antara kita orang-orang Islam yang memiliki pengaruh dan kekuatan hanya diam menghadapi keadaan seperti ini. Sesak napas melihat kemudahan syarat dan rukun pernikahan dalam Islam dimanfaatkan dengan cara seperti itu. Melihat bagaimana anak-anak perempuan diperlombakan untuk seorang laki-laki yang pantas menjadi ayah mereka, kemudian dipindahtangankan begitu saja dengan embel-embel pernikahan dari ayahnya kepada laki-laki lain. Sangat sesak dan berat menarik napas melihat bagaimana perempuan bahkan dalam usia semuda itu sudah dijadikan komoditas atas nama agama dan ditempatkan dalam posisi point of no return. Kemudian BAYANGKAN APA YANG DIPIKIRKAN OLEH ORANG-ORANG YANG SUDAH BERPRASANGKA TERHADAP ISLAM ketika mereka melihat peristiwa ini!

Dan akhirnya, tentang cinta.

Apa yang bisa dikatakan pada seorang anak perempuan 11 tahun yang mengaku sudah cinta pada laki-laki 43 tahun yang menikahinya beberapa minggu dan tidak mau dipisahkan barang seharipun, kecuali serangkaian pertanyaan retorik?

Apa yang dia maksud dengan “cinta”? Apakah ini sejenis Cinta Erotik? Erotisme apa yang bisa dirasakan anak perempuan semuda itu? Apakah ini Platonik, dan kalau Platonik, demikian lemahkah figur ayah hingga dia harus dicarikan ayah lain, dan mengapa harus dengan status suami istri? Mengertikah anak ini wilayah seperti apa yang dimasukinya? Apakah masuk akal menganggap pernyataan cinta seperti itu sebagai sesuatu yang masuk akal?

Tapi sayangnya cinta tidak bisa terlalu banyak ditanya. Kalau dipertanyakan, itu artinya dia dipancung. Kalau dia dipancung, di depan altar kematiannya, akan ada sejuta penyair yang bersedia menyerahkan nyawa demi menjaga kehidupannya. Bahkan kaum sufi pun mungkin akan menangis bila cinta terlalu banyak diperdebatkan, bukan dirasakan.

Jadi kupikir, kalau cinta itu jujur, maka inilah penjelasan untuk semua kerumitan ini. Seorang tua yang sakit-sakitan jatuh cinta pada seorang anak ingusan bukanlah dongeng di dunia ini. Seorang anak ingusan yang jatuh cinta pada seorang yang tua dan sudah ingusan kembali, juga bukan tidak pernah terjadi. Cinta adalah penjelasan yang tidak masuk akal tapi sempurna.

Jadi semuanya bukan hukum. Bukan bisnis. Bukan agama. Semuanya adalah cinta. Lasciar ingenuo ma sempre! Biarlah Naif asal Selamanya! Dan sesudah semua keributan ini, kita akan bergegas keluar sambil pura-pura menghibur kawan berdebat tadi bahwa dunia akan baik-baik saja dan si anak perempuan akhirnya akan bahagia juga, dan kemudian dalam perjalanan pulang sendirian kita akan memikirkan lagi semuanya dengan perasaan dibodohi dan dipermalukan, geram dan masam, seperti seorang tamu dijamu air teh yang diberi garam, kemudian menelannya semulut penuh.

Epilog:
Dalam salah satu dramanya, School for Wives, Moliere, seorang dramawan Perancis Abad 17, yang konon kalimat-kalimatnya di Perancis dikutip seperti Shakespeare dikutip di Inggris, menceritakan Arnolphe yang berusaha membentuk pengantin perempuannya yang jauh lebih muda, Agnes, menjadi seperti yang diinginkannya, dengan memasukkannya ke biara, dan akhirnya gagal. Drama itu menunjukkan bagaimana kemunafikan, ekstrimitas, kesombongan, sikap tiranik, dan ketamakan akan dikalahkan oleh kemurnian, sikap seimbang, keinginan untuk selalu membebaskan, dan mengalir bersama rencana alam.

Itulah yang awalnya aku pikirkan ketika pertama kali mendengar pernikahan—dan semua rasionalisasinya—antara Pujiono Who? dan Ulviana Siapa Itu di sebuah desa di sekitar Semarang. Tapi kemudian tampaknya pikiranku tentang soal ini perlu direorientasi.

Yang sangat ingin aku ketahui, apakah reaksi Seorang Seto, ketika di depannya seorang anak perempuan semuda itu berbicara tentang cinta.. Agaknya beliau belajar lebih banyak dalam hal ini dibanding ketika menjadi konsultan dalam kasus Maia vs Dhani atau Tamara vs Rafli.

Beberapa tentang Moliere, dapat ditemukan di Encarta, atau, yang ada kubaca pada Encyclopedia of World Writers atau juga di Merriam-Webster Encyclopedia of Literature.

*Agamania maksudnya tidak perlu benar-benar tokoh agama—cukuplah memakai busana padang pasir kalau bisa warna putih. Tidak perlu kafiyeh, cukup kepala berlilit sorban seperti Pangeran Diponegoro. Ada asesori tasbih, kalau tidak bisa diputar-putar di jari, kalungkan saja di leher. Jangan lupa jenggot, tapi ingat haute couture lebih penting dari pada jenggot.

Leave a Reply