Tulisan ini dibuat setelah seseorang menanyakan mengapa bukan aku yang berangkat, ketika dalam tulisanku yang lain, aku menggugat tokoh-tokoh agama Islam yang tidak datang menekan Pujiono, pengusaha yang mengawini anak perempuan 11 tahun 8 bulan di dekat Semarang. Sebuah perkawinan yang jelas-jelas melawan Undang-Undang Perkawinan yang dulu bagian terbesarnya disusun oleh ulama-ulama Islam Indonesia. Dalam mempersiapkan tulisan ini justru kemudian aku dicerahkan tentang kenapa banyak manusia yang tidak peduli pada kejahatan.

1961 April—Agustus: Adolf Eichmann, letnan kolonel SS Nazi yang bertanggung jawab mengirimkan Yahudi Eropa ke kamp-konsentrasi, disidang di Jerusalem. Majalah New Yorker meminta Hannah Arendt menuliskan laporannya tentang persidangan ini.

1963: Laporan itu disempurnakan dan diterbitkan sebagai: Eichmann in Jerusalem: A Report on The Banality of Evil. Buku ini sudah sangat banyak dikutip untuk dipuji maupun diserang.

Arendt datang ke Jerusalem bukan untuk mengetahui bagaimana rencana pemusnahan Yahudi dijalankan, tetapi mengapa. Eichmann, sebagaimana sejarah mencatat, tidak pernah merasa bersalah atas apa yang dilakukannya. Dalam pembelaan dirinya, ia menyatakan dengan yakin bahwa ia hanyalah seseorang yang mengerjakan apa yang seharusnya dikerjakan oleh seorang bawahan yang patuh. Eichmann dapat sama tenangnya menganalisa jalannya persidangan, sebagaimana ketika menguraikan pembantaian yang diorganisir dan diawasinya. Tanpa sedikitpun penyesalan. Laporan suami istri psikiater-psikolog yang memeriksanya selama masa tahanan, Shlomo dan Shoshana Kulcsar, menekankan ketidakmampuan Eichmann untuk mengalami kemanusiaan—semacam perasaan terhubung dengan manusia lain. Orang-orang diorganisirnya hanya sebagai benda-benda. Kehangatan perasaan manusia dan kebutuhannya akan kedekatan, keterhubungan, dan simpati tidak dirasakan Eichmann, bahkan dorongan kemarahan dan agresipun tidak dapat diterimanya.

Arendt, dalam bukunya menemukan masalah dan jawabannya dengan mengatakan bahwa inilah the nature of the bureaucratic mind—a world of operations without consequences, information without knowledge. Demikianlah Arendt kemudian menyimpulkan tentang Eichmann: It was as though in those last minutes he [Eichmann] was summing up the lessons that this long course in human wickedness had taught us—the lesson of the fearsome, word-and-thought defying banality of evil.

Kata-kata banal-lah yang membuat sebagian pengkritik Arendt menudingnya pengabai genosida. Karena banal berarti sesuatu yang “manusiawi”, sehari-hari, remeh-temeh, kau bisa akupun bisa, atau seperti sendu Broery Pesolima, “Aku begini. Engkau begitu. Sama saja…” Bagi Arendt, kejahatan-kejahatan besar tidak membutuhkan penjahat-penjahat besar. Tidak membutuhkan ideologi, cukup ambisi untuk menjadi seorang prajurit yang patuh pun sudah cukup. Bahkan genosida, sebuah tindakan pemusnahan manusia yang disengaja dan sistematis, bisa saja dilakukan atau difasilitasi oleh orang-orang dengan pikiran sederhana di sekitar kita. Maret 1998, Vatikan mengakui sikap diam Gereja Katolik dalam pembunuhan Yahudi di Eropa selama Perang Dunia, bahkan membiarkan orang-orang Katolik yang dikirim ke kam konsentrasi hanya karena mereka Yahudi. Tahun sebelumnya Gereja Katolik Perancis melakukan hal yang sama.

Mungkin yang paling memukau dari penjelasan Arendt adalah betapa setiap orang memiliki kompleksitas motif, baik dan jahat. Pertarungan antara sisi gelap dan sisi terang itulah esensi kejahatan, entah apapun baju ideologi yang kita pakai. Jangan dikira karena kita merasa lebih taat dari orang lain semua yang kita lakukan benar. Setan mungkin gemetar mendengar keikhlasan kita, tapi ‘Atid tidak akan berhenti mencatat semuanya hanya karena Setan gugup. Joseph Conrad, yang menulis The Heart of Darkness, menyatakan, A belief in a supernatural source of evil is not necessary; men alone are quite capable of every wickedness.

Kemudian Israel W. Charny menulis tentang sekelompok manusia lain yang diwakili Eichmann, yaitu orang-orang yang memutuskan diri mereka dari makna berbagai peristiwa penghancuran orang lain dengan terus menerus menjalani hidup mereka begitu saja, terus saja menjadi bystanders yang tidak mengambil tindakan untuk memprotes penghancuran-penghancuran itu, karena bukan menjadi minat mereka untuk mempertaruhkan diri mereka sendiri. Dalam bukunya yang lain, On Revolution, Arendt menulis “Only crime and the criminal, it is true, confront us with the perplexity of radical evil; but only the hypocrite is really rotten to the core.”

Menurutku, kemunafikan adalah mengaku mencintai kebenaran tetapi memutuskan hubungan dengan penderitaan dan kesulitannya. Karena itu, kemunafikan terbesar bukanlah pada tindakan kejahatan di balik wajah kebaikan, atau memiliki motif buruk di balik tindakan baik, tetapi pada penolakan untuk menderita demi menjaga kebaikan. Beberapa di antaranya menolak menderita dengan menghitung-hitung akumulasi kebaikan yang dimilikinya, sementara yang lain menolak untuk menatap manusia tepat di blind spot penderitaannya…

Mungkin inilah penjelasan mengapa nahi munkar diletakkan setelah amar ma’ruf . Amar Ma’ruf adalah “memerintahkan kebaikan” sedangkan Nahi Munkar “melarang keburukan”. Karena lebih mudah menghadapi orang-orang yang mempercayai Hari Pembalasan, kemudian menceritakan pada mereka bagaimana mencari uang, dibanding menghadapi orang-orang yang mempercayai uang, kemudian menceritakan tentang bagaimana menghadapi Hari Pembalasan. Jauh lebih mudah berhadapan dengan sejumlah orang yang semuanya sudah satu seragam dengan anda, dibanding berhadapan dengan the dirty dozen. Ada kisah kuno tentang seorang ahli ibadah yang berniat menebang pohon yang menjadi sumber kemusyrikan, berkelahi dengan personifikasi setan, menang, sebagai kompensasi mendapatkan beberapa dinar di balik lapik tidurnya, tapi kemudian kalah segala-galanya karena bersedia berkompromi secara spiritual dengan pembela kemusyrikan itu. Beberapa menyebut ini sebagai pelajaran tentang keikhlasan, tapi pragmatisnya, inilah contoh nyata adagium jangan coba-coba kepingin naik kelas spiritual dengan main-main dengan setan.

Mungkin itu pula penjelasan mengapa dalam Qur’an Suci dalam semua pertemuan (9 kali) dua buah kata dalam beberapa derivatnya, nadziraa lebih belakangan dari basyiraa. Basyiraa adalah Pemberi Kabar Bahagia untuk orang-orang baik dan nadziraa Pemberi Kabar Buruk bagi orang-orang jahat. Kemudian semua pemasangan dua kata ini merupakan afirmasi Tuhan tentang tugas kenabian. Tidak ada seorang pun utusan Tuhan yang tidak mengalami luka fisik maupun psikis ketika menyampaikan Kabar Buruk bagi orang-orang jahat, padahal nantinya mereka hanya diingat oleh orang-orang yang percaya pada Kabar Bahagia yang mereka sampaikan.

Jadi, mengapa Nash tidak berangkat ketika kejahatan terjadi?

Korosi paling parah adalah karena Nash orang yang munafik. Nash ingin seperti nabi, tapi Nash tidak berani (jangan lagi suka!) konfrontatif terhadap kejahatan. Nash menggunakan standar ganda terhadap kejahatan dan kebaikan. Nash silau terhadap kesuksesan, status, dan atribut sosial lainnya sehingga buta terhadap penderitaan orang-orang yang sepanjang hidupnya menjaga kebenaran, atau orang-orang yang kepalanya diinjak oleh sebagian orang untuk mengejar kesuksesan yang Nash kagumi.

Pada korosi moderat, Nash adalah orang yang tidak peduli pada kepentingan orang lain. Nash adalah orang yang jarang sekali menggunakan perasaan ketika melihat manusia lain. Nash mengganggap kebaikan dan kebenaran itu sudah selesai seperti apa yang dituliskan di buku-buku atau yang diceritakan dalam pesan agama di antara iklan-iklan di televisi, bukannya apa yang ditemukannya di dunia nyata kemudian bereksperimen dengannya. Nash percaya sekali bahwa dengan apa yang sudah dipunyainya sekarang, dia sudah cukup baik dan memikirkan masalah orang lain adalah… ngga gue banget.

Sementara korosi yang paling sedikit, Nash adalah orang yang selfish, hanya memikirkan diri sendiri. Nash adalah orang yang berteriak-teriak tentang keadilan hanya bila dia yang menjadi korban kezaliman, hanya ketika zona amannya terancam. Semakin mapan Nash, semakin tersier lingkar zona amannya. Kalau zona amannya kembali stabil, maka bagi Nash hidup ini adalah dog eat dog.

Jadi kalau kapan-kapan anda melihat Nash berada dalam sebuah situasi kezaliman dan dia diam saja. Entah Nash itu sedang hypocrite, entah hands-off, entah selfish, entah ketiganya, tapi minimal pasti salah satu di antaranya, tolong ingatkan saja dia.

Epilog:
Majalah New Yorker pertama kali kusentuh kira-kira 3 tahun lalu di American Corner salah satu kampus, padahal sudah kucari sejak akhir 90an. Mungkin di American Corner-lah satu-satunya tempat membaca majalah ini, atau mungkin Konsulat/Kedubes AS. Setahuku, di rak majalah asing Gramedia, bahkan di Trimedia pun, majalah ini tidak pernah tampak. Yang enteng, New Yorker menarik karena kartunnya. Meskipun bukan majalah sastra, tapi di dalam box-nya banyak ditampilkan puisi yang bagus.

Eichmann in Jerusalem: A Report on The Banality of Evil. Aku menemukannya pertama kali dikutip dalam sebuah buku tentang bagaimana memaafkan luka hati yang tidak sepantasnya kita terima oleh Louis B. Smedes, pada bagian bagaimana memaafkan orang yang tidak pernah merasa bersalah. Hannah Arendt (1906-1975) sendiri adalah seorang Yahudi, seorang akademisi ilmu politik yang serius dan menghabiskan masa hidupnya mengajar di perguruan tinggi. Dia adalah profesor perempuan pertama di Princeton, sumbangan terbesarnya adalah analisis psikologis terhadap totalitarianisme dan genosida.

The Heart of Darkness. Sekitar 15 tahun lalu, di lobi dekanat Fakultas Sastra UNPAD Bandung di Jatinangor, seorang dosen Sastra Inggris memberikan nasehatnya untuk dua mahasiswa: “Bayangkan bagaimana kejahatan bisa begitu mengerikan bila dijadikan manusia sebagai sumber kekuatan…The Heart of Darkness, Joseph Conrad”. Aku bukan mahasiswa yang ditujunya, tapi karena duduk di dekat mereka, nasehat ini aku kupingi. Beberapa tahun kemudian, aku juga mengetahui setelah menontonnya bahwa salah satu film terbaik pertengahan 80-an, Apocalypse Now, yang menceritakan kegilaan manusia di Perang Vietnam, merupakan adaptasi dari novel yang terbit 1902 ini,. Kalau seorang sutradara hebat ingin mengadaptasi sebuah buku, buku itu layak dibaca, entah kita suka filmnya atau tidak.

Aku mencari ayat-ayat “basyiraan wa nadziraan” dengan menggunakan Al-Qur’an Al-Kariim terbitan Daaru ar-Rasyiid Damsyik-Bairut. Yang paling kusuka, di situ ditambahkan juga tafsir dan penjelasan kata, serta sebab-sebab turun ayat versi Jalaluddin As-Suyuuthi, dan indeks frasa dan kata. Yang relevan kali ini adalah yang terakhir. Aku mendapatkan mushaf compact ini sebagai hadiah pulang haji dari seorang sahabat yang kerendahan hatinya kukagumi, Ery Djunaedy, kira-kira 14 tahun yang lalu. Aku masih membaca dan mencari ayat dengannya. Hadiah terbaik apa yang pernah anda terima mungkin memang harus diperiksa dengan mengukur attachment anda dengannya setelah belasan tahun berlalu.

The Dirty Dozen adalah judul film tua (1967) beraroma Perang Dunia II, bercerita tentang selusin pecundang dan bajingan yang direkrut untuk misi bunuh diri melawan Nazi. Seorang penulis buku tentang Piala Oscar menulis tentang film ini: “Often imitated never bettered”.

‘Atid dalam Islam adalah malaikat yang bertugas mencatat perilaku-perilaku buruk manusia.

Leave a Reply