==Teks berikut ini adalah pesan lama yang pernah kukirimkan ke salah satu milis pada Sat Sep 16, 2006 4:22 pm di salah satu milis aktivis masjid kampus di Bandung==

Mei 2005. Sebuah pesan berisi laporan pandangan mata tentang diskusi buku di salah satu Masjid di Jakarta, dimasukkan ke salah satu milis yang saya ikuti. Berikut ini komentar lengkap saya terhadap pesan tersebut.

Beberapa minggu yang lalu (?!) di milis ini diforward pesan yangberisi pelaknatan terhadap Jaringan Islam Liberal. Ceritanya berawaldari sebuah diskusi buku. Pesan asli tampaknya ditujukan sebagai laporan pandangan mata tentang kejadian itu, tapi penulisnya kemudian
menambahkan beberapa kalimat pelaknatan. Aku tidak tahu mengapa pesan-pesan pelaknatan terhadap sebuah kaum dikirimkan ke milis ini. Tapi inilah komentarku:

Aku terkesiap bahwa di antara kaum Muslimin, masih ada juga Jama’ah Pelaknat. Jama’ah yang sehabis berdebat tentang sesuatu–yang perdebatan itu, secara fisik dicampur sorak-sorai, tepuk tangan, tuding-tudingan tangan, dan secara psikologis dicampur ujub dan takabbur karena jumlah pendukung yang lebih banyak–kemudian merasa berhak melaknat orang lain.

Bagiku, Jama’ah Pelaknat muncul lebih karena KECENDERUNGAN KEPRIBADIAN SEBAGAI PELAKNAT, dari pada karena keluasan ilmu dan kearifan dalam memahami Islam. Anda tahu bahwa beberapa orang, entah agama apapun yang mereka peluk, akan tetap menjadi seseorang yang suka melaknat orang lain. Tidak peduli apakah ilmu dan pengalaman beragama mereka luas atau sempit, tidak peduli apakah ilmu dan pengalaman orang yang mereka tuding luas atau sempit, orang-orang ini akan tetap melaknat.

Kalau mereka diajak berdikusi tentang agama, mereka hadir dengan pretensi bahwa KEBENARAN ADA DI SINI, dalam argumentasi yang mereka tulis, bahkan dalam jumlah orang yang mereka bawa. Mereka hadir dengan niat seorang pembantai. Goenawan Mohammad pernah menulis dalam catatan Pinggirnya di Majalah TEMPO, tentang orang-orang yang selalu membutuhkan korban untuk bisa merasa dirinya berharga. Mereka ibarat Tarzan yang setelah membunuh singa, masih merasa perlu menginjak korbannya, sambil berteriak kemenangan. Para Pelaknat ini, merupakan derivat yang lebih kompleks dari para Pembukti. Para Pembukti, bukan hanya dalam beragama, tapi juga sepanjang hidupnya, selalu merasa perlu membuktikan sesuatu pada orang lain–bahkan dalam tingkat yang lebih patologis. Kalau orang lain itu tidak ada, mereka merasa terus dituntut untuk membuktikan pada dirinya sendiri–tentang apapun. Para Pembukti selalu merasa perlu membuktikan bahwa mereka lebih kuat,
lebih cerdas, lebih mampu, lebih-lebih-lebih… Mereka dibesarkan (atau membesarkan diri) dengan cara pandang yang curiga terhadap hidup dan manusia. Mereka percaya: JIKA DAN HANYA JIKA MEREKA BISA MENANG, BARULAH MEREKA BERHARGA. Syarat perlu dan cukup bagi mereka untuk hidup adalah menang dalam kompetisi. Ketika mereka berada dalam ranah agama, yang memang membicarakan surga-neraka, tersesat-terselamatkan, malaikat-syetan, dan yang terpenting: TERLAKNAT DAN TERBERKATI, maka kita akan melihat para Pelaknat yang paling sophisticated di kelasnya. Yang membuat mereka paling canggih adalah karena mereka memiliki fitur PLAYING GOD. Berdiskusilah dengan mereka tentang agama, kemudian mereka akan menekan tombol enter, dan akan keluar kesimpulan apakah anda akan di surga atau neraka. Mereka sudah siap dengan semua jawaban terhadap pertanyaan, mereka sudah memiliki semua afirmasi untuk semua keragu-raguan yang anda temukan dalam Islam…bukan karena mereka para nabi dan rasul, tapi karena mereka BERMAIN SEBAGAI TUHAN. Ya, alam pra-sadar para Pelaknat selalu mengandaikan: SEANDAINYA AKU MEMILIKI NERAKA DAN SURGA, KEMANA ORANG INI AKAN AKU MASUKKAN?–dan bukankah katagori paling sederhana untuk memisahkan surga dan neraka adalah TERLAKNAT VS TERBERKATI?

Bila anda ingin menguji apakah kaum Pelaknat merupakan fungsi eksponensial dari psikologi pelaknat, ataukah fungsi eksponensial dari pemahaman agama, coba tanyakan pada orang-orang ini (yang dapat diindikasikan dengan mudah dari pesan-pesan pelaknatan yang mereka tulis sendiri, atau mereka forward, tentang sebuah ide atau kelompok agama lain–dalam milis ataupun sms) pertanyaan-pertanyaan sederhana: Seberapa lama mereka mempelajari agama ini? Seberapa banyak ilmu alat, ilmu ushul, dalam agama ini yang mereka pahami? Seberapa rentang sejarah Islam yang mereka pelajari? Pernahkah mereka mempelajari agama ini dalam bahasa dan kultur sumbernya? Sejak kapan mereka mulai merasa membutuhkan memahami dan mengalami agama lebih dalam? Krisis apa yang pernah mereka alami dalam beragama? Seberapa heterogen pemeluk agama yang pernah mereka kenal dekat?

Aku ingin membandingkan Jama’ah Pelaknat ini dengan orang-orang yang berdiskusi dengan pretensi KEBENARAN ADA DI SANA–di sebuah tempat yang belum kita kenal, terra incognita. Atau di atas kepala kita, yang “…seandainya kita bersedia menjinjitkan sedikit saja kaki kita, mungkin kita akan dapat merengkuhnya”, begitulah pernah ditulis Joe, rekan seangkatan Fahmi Munsah di Salman. Para PENCARI ini tidak pernah merasa memiliki jawaban final, analisis final. Yang ada adalah PERTANYAAN DAN PERJALANAN. Bukan jawaban final yang mereka cari, tapi ketenangan batin. Ketenangan batin yang bukan didapat dari berbagai argumentasi dan perdebatan, tapi melalui eksperimen- eksperimen dengan hidup dan kebenaran. Kalau kita bertemu mereka, mereka tidak akan menawarkan sebuah jawaban pada kita, mereka justru akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menjadi cermin bagi kita. Aku ingat, Warren Bennis, tahun 1989, resi manajemen itu pernah menulis tentang krisis kepemimpinan di Amerika Serikat, katanya: KITA MEMBUTUHKAN SESEORANG YANG CERDAS, YANG BERSEDIA BERBAGI KECERDASANNYA, DAN KETIKA MENDENGARKAN PIKIRAN-PIKIRANNYA, KITA AKAN MERENUNGKAN HIDUP KITA.

Para PENCARI tidak akan mengacungkan telunjuknya ke arah kita, tapi ke sebuah tempat di ujung sana, yang tidak bisa kita lihat, tapi suara hati kita mengatakan dari sanalah kita datang, dan kesanalah kita akan kembali. Dari pada menawarkan sebuah tempat untuk berteduh bagi jiwa keagamaan kita yang kekanak-kanakan yang penakut dan dependen, mereka justru menawarkan sebuah perjalanan yang harus kita tempuh sendiri, untuk menemukan betapa pentingnya menghadapi rasa takut, betapa pentingnya menemukan tempat bergantung SEJATI, dan apa arti kekalahan yang sebenarnya.

Aku ingin menegaskan betapa pentingnya perjalanan bagi orang-orang ini. Mereka tidak pernah berhenti karena mereka digerakkan oleh pertanyaan-pertanyaan abadi. Alih-alih berusaha membuktikan dirinya benar, mereka justru sibuk mengekspresikan diri, sehingga akan menghormati ekspresi diri anda. Karena mereka MUSAFIR SEJATI, maka mereka akan menghormati perjalanan anda, akan dengan sabar mendengarkan tempat-tempat anda pernah berhenti dan singgahi, cerita tentang saat-saat anda tersesat, tentang kepedihan yang anda alami ketika kehilangan bekal sementara perjalanan anda masih jauh, dan tentu saja mengenai segala sesuatu yang harus anda buang karena akan menyulitkan perjalanan hidup anda. Kalau mereka menemukan sesuatu yang ganjil dalam pikiran dan tindakan anda, alih-alih melaknat, mereka justru bertanya: INIKAH ANDA YANG SEBENARNYA? INIKAH ANDA YANGANDA INGINKAN UNTUK DIKENANG ORANG LAIN KETIKA MEREKA MELIHAT BATUNISAN ANDA?

Dengan semua ini, merekalah reprepsentasi para Nabi. Para Nabi merupakan teladan bagaimana seorang Pencari Sejati melakukan semuanya–ingatlah pencarian Ibrahim, perjalanan Musa, khalwatnya Muhammad. Para Nabi adalah manusia biasa yang sesekali diingatkan karena salah mengambil keputusan. Para Nabi adalah orang-orang yang menentang zamannya. Para Nabi melawan apa yang dianggap tradisi. Tapi sekalipun begitu, mereka tidak pernah BERMAIN SEBAGAI TUHAN. Mereka terlalu mencintai manusia sehingga tidak mampu melaknat, sekalipun mereka terancam sepanjang hidupnya. Mereka diikuti, menurutku, bukan karena argumentasi-argumentasi dan menang dalam perdebatan, tapi karena mereka membantu kita dalam perjalanan menemukan makna hidup. Akuilah bahwa Muhammad (Ya Allah, sentuhkanlah hidup kami dengan hidupnya) adalah seorang miskin yang gelisah, yang menurut riwayat, masih meratapi ummatnya ketika beliau menarik dan menghela nafas kematiannya. Karena itulah para nabi BIGGER THAN LIFE. Muhammad dicintai, ditangisi, diminta hadir dalam mimpi-mimpi, seribu lima ratus tahun setelah kematiannya, BUKAN KARENA KITA MENEMUKAN CATATAN BAHWA BELIAU MELAKNAT ORANG-ORANG YANG BERBEDA PANDANGANNYA.

Waktuku sudah habis… aku berhenti di sini

Ini adalah teks Commancement Speech Steve Jobs, CEO Apple Computer dan Pixar Animation Studios, disampaikan pada 12 Juni 2005 di Universitas Stanford

Saya merasa terhormat hari ini bisa bersama anda pada hari wisuda anda di salah satu universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah lulus dari perguruan tinggi. Sejujurnya, inilah jarak terdekat yang pernah saya dapatkan dengan wisuda perguruan tinggi. Hari ini saya ingin menceritakan pada anda tiga kisah dari hidup saya. Hanya itu. Bukan hal-hal besar. Hanya tiga kisah.

Yang pertama adalah tentang menghubungkan titik-titik.

Saya drop out dari Reed College setelah 6 bulan pertama, tetapi saya masih mengikuti kuliah yang tidak terdaftar selama sekitar 18 bulan berikutnya sebelum saya benar-benar keluar. Mengapa saya drop out?

Kejadian itu dimulai sebelum saya dilahirkan. Ibu biologis saya adalah seorang mahasiswa sarjana yang muda dan tidak menikah, dan dia memutuskan untuk menyerahkan saya untuk diadopsi. Dia sangat ingin agar saya diadopsi oleh lulusan perguruan tinggi, sehingga kemudian segala sesuatunya (tampaknya telah) disiapkan bagi saya untuk dapat diadopsi sejak lahir oleh seorang pengacara dan istrinya. Kecuali bahwa ketika saya muncul mereka memutuskan di saat akhir bahwa yang mereka inginkan sebenarnya seorang anak perempuan. Jadi orang tua (adopsi) saya, yang sebelumnya sudah berada dalam daftar tunggu, mendapat telepon di tengah malam yang bertanya: “Kami memiliki seorang anak laki-laki yang tidak diharapkan, apakah anda menginginkannya?” Mereka mengatakan, “Tentu saja.” Ibu biologis saya kemudian megetahui bahwa ibu (adopsi) saya tidak pernah lulus dari perguruan tinggi dan ayah saya tidak pernah lulus dari SMA. Dia menolak menandatangani kertas-kertas akhir adopsi. Dia baru menyerah setelah beberapa bulan kemudian orang tua saya berjanji bahwa suatu hari nanti saya akan kuliah.

Dan 17 tahun kemudian saya memang kuliah. Tetapi dengan naifnya, saya memilih perguruan tinggi yang mahalnya hampir seperti Stanford, dan semua tabungan kelas-pekerja orang tua saya dihabiskan untuk uang pendaftaran perguruan tinggi. Setelah enam bulan, saya tidak mengerti apa yang saya ingin lakukan dalam hidup saya, dan juga tidak mengerti bagaimana perguruan tinggi akan membantu saya memahami hal itu. Dan di sinilah saya menghabiskan semua uang yang disimpan oleh orang tua saya seumur hidupnya. Demikianlah hingga saya memutuskan untuk keluar dan percaya bahwa semua akan berjalan OK. Kejadian ini cukup mengerikan waktu itu, tetapi bila melihat ke belakang, itu merupakan salah satu keputusan terbaik yang pernah saya buat. Sesaat setelah drop out, saya bisa berhenti mengambil kelas-kelas yang tidak menarik bagi saya, dan mulai mengambil kelas yang menarik.

Apa yang terjadi sama sekali tidak romantik. Saya tidak punya kamar kos, jadi saya tidur di lantai kamar teman saya, saya mengembalikan botol coke untuk mendapatkan 5 sen yang saya gunakan membeli makanan, dan saya berjalan 7 mil setiap Minggu malam untuk mendapatkan makanan yang enak di sebuah kuil Hare Krishna. Saya menyukai semua ini. Dan banyak hal yang saya temukan secara kebetulan karena mengikuti rasa ingin tahu dan intuisi ternyata tidak ternilai harganya di belakang hari. Izinkan saya memberi anda satu contoh:

Waktu itu, Reed College menawarkan, mungkin instruksi kaligrafi terbaik di negara ini. Di seluruh bagian kampus semua poster, semua label di setiap laci, di tulis dengan kaligrafi tangan yang indah. Karena saya drop out dan tidak harus mengambil kelas normal, saya memutuskan untuk mengambil kelas kaligrafi untuk belajar bagaimana hal tersebut dibuat. Saya belajar tentang hurup serif dan sanserif, tentang variasi jumlah spasi di antara kombinasi hurup, tentang apa yang membuat tipografi yang indah itu indah. Semuanya itu indah, historik, artistik, dalam subtilitas yang tidak bisa ditangkap oleh sains, dan saya menganggapnya luar biasa.

Tidak ada satupun dari ini semua yang punya harapan akan digunakan secara praktis dalam hidup saya. Tetapi sepuluh tahun kemudian, ketika kami merancang komputer Macintosh pertama kali, semuanya kembali kepada saya. Dan kami merancang semua itu ke dalam Mac. Inilah komputer pertama dengan tipografi yang indah. Seandainya saja saya tidak pernah mengambil mata kuliah tersebut (meskipun tidak terdaftar) di perguruan tinggi, Mac tidak akan pernah memiliki berbagai jenis hurup atau hurup-hurup yang spasinya proporsional. Dan karena Windows hanya mengkopi Mac, maka mungkin tidak akan ada komputer pribadi yang akan memilikinya. Bila saya tidak pernah drop out, maka saya tidak akan pernah drop in di kelas kaligrafi ini, dan komputer pribadi mungkin tidak akan pernah memiliki tipografi yang indah seperti sekarang. Tentu saja mustahil untuk menghubungkan titik-titik tersebut dengan melihat ke depan ketika saya dulu di perguruan tinggi. Tetapi semuanya sangat, sangat jelas ketika melihat ke belakang sepuluh tahun kemudian.

Sekali lagi, anda tidak dapat menghubungkan titik-titik dengan melihat ke depan; anda hanya dapat menghubungkannya dengan melihat ke belakang. Jadi anda harus percaya bahwa titik-titik tersebut akan tersambung di masa depan anda. Anda harus percaya pada sesuatu—nyali anda, nasib, hidup, karma, apapun. Pendekatan seperti ini tidak pernah mengecewakan saya, dan ia telah membuat perbedaan dalam hidup saya.

Kisah saya yang kedua adalah tentang cinta dan kehilangan

Saya beruntung—saya menemukan apa yang saya suka lakukan di awal hidup saya. Woz (Steve Wozniak) dan saya memulai Apple di garasi orang tua saya ketika saya berusia 20. Kami bekerja keras, dan dalam 10 tahun Apple telah tumbuh dari hanya dua orang kami di garasi menjadi perusahaan 2 Milyar USD dengan lebih dari 4000 karyawan. Waktu itu kami baru saja meluncurkan kreasi terbaik kami—Macintosh—setahun sebelumnya, dan saya baru saja 30 tahun. Kemudian saya dipecat. Bagaimana anda bisa dipecat dari perusahaan yang anda dirikan? Well, seiring tumbuhnya Apple kami merekrut seseorang yang kami pikir amat berbakat untuk menjalankan perusahaan bersama saya, dan untuk tahun pertama semuanya berjalan baik-baik saja. Tetapi kemudian visi kami tentang masa depan mulai terpecah dan kemudian kami berdebat. Ketika kami berdebat, Board of Directors memihak padanya. Jadi di usia 30 saya keluar. Dan secara publik sungguh-sungguh keluar. Apa yang menjadi fokus di sepanjang kehidupan dewasa saya hilang, dan hal ini menghancurkan.

Selama berbulan-bulan, saya sungguh-sungguh tidak tahu apa yang akan saya lakukan. Saya merasa telah mengecewakan generasi entrepreneur sebelumnya—bahwa saya telah menjatuhkan tongkat yang digilirkan pada saya. Saya bertemu dengan David Packard dan Bob Noyce dan mencoba meminta maaf karena telah merusak semuanya sedemikian buruk. Saya adalah kegagalan publik yang sebenarnya, bahkan berpikir untuk lari dari Lembah (Silikon). Tetapi sesuatu perlahan terbit di diri saya—saya masih mencintai apa yang saya kerjakan. Apa yang terjadi di Apple tidak mengubah cinta itu sedikitpun. Saya sudah ditolak, tapi saya masih mencintai. Dan kemudian saya memutuskan untuk memulai kembali.

Saya tidak melihat ini waktu itu, tetapi kemudian tampak bahwa dipecat dari Apple adalah hal terbaik yang pernah terjadi pada diri saya. Beban karena kesuksesan digantikan oleh kelegaan seorang pemula lagi, (karena) segala sesuatu tidak begitu pasti. Hal ini membebaskan saya untuk memasuki salah satu periode paling kreatif dalam hidup saya.

Dalam lima tahun berikutnya, saya memulai sebuah perusahaan bernama NeXT, sebuah perusahaan lain bernama Pixar, dan jatuh cinta pada seorang wanita luar biasa yang kemudian menjadi istri saya. Pixar kemudian menciptakan film pertama di dunia yang dianimasi dengan komputer, Toy Story, dan sekarang menjadi studio animasi paling sukses di dunia. Dalam sebuah titik balik yang luar biasa, Apple membeli NeXT, saya kembali ke Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi jiwa renaisans Apple saat ini. Dan Laurene dan saya memiliki keluarga yang bahagia.

Saya yakin tidak ada satupun dari hal ini yang akan terjadi seandainya saya tidak dipecat dari Apple. Pemecatan itu adalah obat yang pahit, tetapi saya pikir sang pasien membutuhkannya. Kadang-kadang hidup menghantamkan batu bata ke kepala anda. Don’t lose faith. Saya yakin bahwa satu-satunya hal yang membuat saya terus berjalan adalah karena saya mencintai apa yang saya lakukan. Anda harus menemukan apa yang anda cintai. Hal ini sama pentingnya dalam urusan pekerjaan maupun kekasih anda. Pekerjaan anda akan mengisi bagian besar dalam hidup anda, dan satu-satunya jalan untuk benar-benar terpuaskan adalah dengan melakukan apa yang anda percaya sebagai pekerjaan yang agung. Dan satu-satunya cara untuk melakukan pekerjaan yang agung adalah dengan mencintai apa yang anda lakukan. Bila anda belum menemukannya saat ini, teruslah mencari. Don’t settle. Sebagaimana semua hal yang berkaitan dengan hati, anda akan tahu ketika anda menemukannya. Dan seperti hubungan agung manapun, ia akan menjadi semakin baik, dan semakin baik seiring dengan tahun-tahun berjalan. Jadi tetaplah mencari hingga anda menemukannya. Don’t settle.

Kisah ketiga saya adalah tentang kematian.

Ketika saya berusia 17, saya membaca sebuah kutipan yang kira-kira berbunyi: ”Bila anda menjalani setiap hari seolah-olah itu adalah hari terakhir anda, suatu hari anda akan sungguh-sungguh mengalaminya”. Kalimat itu mengesankan bagi saya, dan sejak itu, selama 33 tahun kemudian, saya melihat ke cermin setiap pagi dan bertanya pada diri sendiri: “Bila hari ini adalah hari terakhir hidup saya, akankah saya melakukan apa yang saya lakukan hari ini?” Dan bila jawabannya adalah “Tidak” selama terlalu banyak hari berturut-turut, saya tahu bahwa saya harus merubah sesuatu.

Mengingat bahwa saya akan segera mati merupakan alat terpenting yang pernah saya temukan untuk membantu saya membuat pilihan-pilihan besar dalam hidup saya. Karena hampir semuanya—semua harapan orang lain, semua gengsi, semua rasa takut akan malu dan kegagalan—hal-hal ini akan runtuh di depan wajah kematian, yang tinggal hanyalah apa yang sungguh-sungguh penting. Mengingat bahwa anda akan mati adalah cara terbaik yang saya ketahui untuk menghindari jebakan bahwa anda memiliki sesuatu untuk dipertaruhkan. Anda sudah telanjang. Tidak ada alasan untuk tidak mengikuti hati anda.

Setahun yang lalu saya didiagnosa kanker. Saya menjalani pemindaian pukul 7:30 pagi, dan hasilnya menunjukkan sebuah tumor di pankreas. Saya bahkan tidak tahu sebelumnya pankreas itu apa. Para dokter mengatakan pada saya bahwa hampir pasti ini adalah kanker yang tidak bisa disembuhkan, dan saya tidak memiliki harapan hidup lebih dari 3 sampai 6 bulan. Dokter saya menganjurkan saya pulang dan mengatur segala urusan saya, yang merupakan tanda dokter bagi persiapan kematian. Artinya, anda mencoba menceritakan semuanya yang akan anda katakan selama sepuluh tahun ke depan pada anak-anak anda hanya dalam beberapa bulan. Itu artinya memastikan bahwa semuanya sudah tertata rapi sehingga akan menjadi semudah-mudahnya bagi keluarga anda. Itu artinya mengatakan semua ucapan selamat tinggal anda.

Saya menghayati diagnosa itu sepanjang hari. Belakang di malam hari saya menjalani biopsi, mereka memasukkan endoskop ke tenggorokan saya, masuk ke perut dan ke usus, menusukkan sebuah jarum ke pankreas saya dan mengambil beberapa sel tumor itu. Saya dibius, tetapi istri saya yang berada di sana, mengatakan pada saya bahwa ketika mereka melihat sel-sel tersebut dengan mikroskop, para dokter mulai menangis karena kemudian ternyata itu merupakan sejenis kanker pankreas amat jarang yang bisa disembuhkan dengan pembedahan. Saya dibedah dan saya baik-baik saja saat ini.

Ini adalah jarak terdekat saya berhadapan dengan kematin, dan saya berharap ini adalah yang terdekat yang saya alami hingga beberapa puluh tahun lagi. Karena telah melewati itu, sekarang saya dapat mengatakan pada anda hal berikut dengan keyakinan yang lebih besar dibanding ketika kematian bermanfaat (untuk dibicarakan) tetapi murni dalam konsep intelektual.

Tidak seorangpun ingin mati. Bahkan orang yang ingin ke surga pun tidak ingin mati untuk sampai ke sana. Tetapi begitupun, kematian adalah tujuan bersama semua kita. Tidak seorangpun pernah selamat darinya. Dan memang demikianlah sebaiknya, karena Kematian sangat mungkin adalah temuan terbaik dari Kehidupan. Ia adalah agen perubahan Kehidupan. Ia membersihkan yang lama untuk memberi jalan bagi yang baru. Saat ini yang baru adalah anda, tetapi pada suatu hari yang tidak terlalu lama dari sekarang, perlahan anda akan menjadi yang lama dan dibersihkan. Maaf karena (saya) begitu dramatis, tetapi itulah kebenaran.

Waktu anda terbatas, so don’t waste it living someone else’s life. Jangan terjebak pada dogma—yang berarti hidup dengan hasil pikiran orang lain. Jangan biarkan kebisingan pendapat orang lain menenggelamkan suara hati anda. Dan yang terpenting, milikilah keberanian untuk mengikuti hati dan intuisi anda. Keduanya, entah bagaimana, telah mengetahui menjadi siapa sesungguhnya yang anda inginkan. Yang lain-lain tidak begitu penting.

Ketika saya muda, ada sebuah publikasi yang luar biasa yang disebut The Whole Earth Catalog, yang menjadi salah satu kitab suci generasi saya. Publikasi itu dibuat oleh seorang pemuda bernama Stewart Brand yang tidak jauh dari sini di Menlo Park, dan dia membuatnya hidup dengan sentuhannya yang puitik. Ini terjadi di akhir 60an, sebelum era komputer pribadi dan desktop publishing, jadi semuanya dibuat dengan mesin ketik, gunting, dan kamera polaroid. Ia semacam Google dalam bentuk kertas, 35 tahun sebelum Google muncul; ia idealis, dan dipenuhi catatan yang bagus dan tools yang rapi.

Stewart dan timnya menerbitkan beberapa edisi The Whole Earth Catalog, dan ketika telah habis waktunya, mereka menerbitkan edisi terakhir. Itu pertengahan 70an, dan saya seusia anda. Di sampul belakang edisi akhir mereka ada sebuah foto tentang awal pagi di sebuah jalan desa, jalan yang mungkin akan anda tempuh bila anda amat suka bertualang. Di bawahnya ada kata-kata: “Stay Hungry. Stay Foolish.” Itulah pesan perpisahan mereka ketika mundur. Tetaplah Lapar. Tetaplah Bodoh. Dan saya selalu mengharapkan hal itu pada diri saya. Dan sekarang, seiring dengan kelulusan anda untuk memulai sesuatu yang baru, saya mengharapkan hal itu juga pada anda.

Tetaplah Lapar. Tetaplah Bodoh.

Terima Kasih.

Epilog: Saya membaca tentang Steve Jobs pertama kali beberapa tahun lalu karena profilnya hampir selalu menjadi studi kasus Kepemimpinan, terutama tentang Gaya Kepemimpinan, terutama di buku teks Perilaku Organisasi. Jobs, sebagaimana ditulis dalam sebuah buku memiliki gaya eksentrik, erratic, dan kadang keras kepala. Pemecatannya dari Apple menjadi pemicu mengapa dia di-studi kasus-kan. Jobs kehilangan jabatan, tapi rupanya whizkid Apple ikut keluar bersama Jobs. Kembalinya Jobs ke Apple menunjukkan bahwa ternyata studi-kasusnya yang diterbitkan kemarin belum selesai (senyum donk). Wikipedia menulis meskipun Jobs mendapat fasilitas jet pribadi, tetapi gajinya di Apple hanya US $ 1 pertahun. Anda tidak akan bisa menerima itu kecuali anda melakukan pekerjaan anda dengan cinta. Busana favorit [maksud saya, busana resmi Jobs, karena digunakannya di banyak even penting] adalah kaos, celana jeans, dan sepatu kets. Menjelang akhir 2005, TIME memasangnya di sampul dengan kalimat: The Man Who Always SEEMS to Know What’s Next… (“seems” saya kapitalkan sendiri, karena mana mungkin judul itu benar tanpa “seems” )

Pidato ini adalah salah satu pidato yang lembut sekaligus amat kuat bagi saya. Kehilangan dan Kematian bukanlah isu yang baru, tetapi ketika itu disampaikan di depan sebuah acara wisuda, bagi saya itu orisinal. Bukankah menceritakan isu ini mengotentifikasi wisuda sebagai kelahiran baru?

Pidato Jobs adalah suasana batinbagi kesuksesan produk-produk Apple. Semua yang diungkapkannya sederhana tetapi “state of the art”. Saya belajar banyak dari apa yang diceritakan Jobs tentang dirinya sendiri.

Dalam penerjemahan ini, semua yang berada dalam tanda kurung adalah tambahan saya, semata-mata untuk mengalirkan idenya. Saya mencoba sebaik mungkin merekam ulang ide Jobs ke bahasa Indonesia. Beberapa kata tidak saya terjemahkan karena menurut saya tidak ada yang bisa menggantikan apa yang dimaksud Jobs dengan kata pilihannya. Bila ingin membaca naskah aslinya, teks asli pidato ini dapat ditemukan di beberapa tempat. Di Google, ketikkan “Steve Jobs Speech”…dan JEBRETTTT, tinggal memilih. Saya mengambil ini dari Stanford News Service, 14 Juni 2005. Universitas Stanford.

Aku mengenal nama GM pertama kali dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Ketika berbicara tentang sastrawan Angkatan 66. Tapi tidak seperti Taufik Ismail, yang karya-karyanya begitu populer dan ada di perpustakaan, aku tidak pernah menemukan karya GM. Belakangan aku baru membaca Smaradhana atau Seks Sastra dan Kita, justru di akhir 90-an, padahal konon buku itu sudah pernah terbit hampir 30 tahun yang lalu.

Aku baru mengenal pikiran-pikiran GM lewat kolom Catatan Pinggir-nya di Majalah TEMPO. Bapak yang rajin membeli majalah-majalah bekas, karena tidak cukup uang untuk membeli majalah baru, memiliki sebuah bundel Majalah TEMPO tahun 1979. Inilah yang paling aku suka, karena banyak dan tebal sampulnya. Di sana, aku ingat ada laporan tentang Sengon dan Karta yang kehilangan kebebasannya selama bertahun-tahun karena kasus Peradilan Sesat. Kupikir semua penegak hukum di Indonesia pasti mengenal “Kasus Sengon dan Karta”. Dua orang desa yang dipenjarakan pengadilan karena “terbukti” melakukan pembunuhan. Seingatku, hampir dua belas tahun dipenjara, barulah mereka dibebaskan setelah pembunuh yang sebenarnya tertangkap. Di situ ada juga kasus Budiaji, sebagian berita mengatakan inilah koruptor pertama yang dipenjarakan di Indonesia. Biasanya semuanya aku baca. Sampai Surat-Surat Pembaca-nya, meskipun sebenarnya aku tidak paham. Termasuklah yang tidak kupahami itu kolom Catatan Pinggir. Aku pikir ini masa-masa aku beranjak meninggalkan ibtidaiyah (sekolah dasar) menuju awal tsanawiyah (sekolah menengah pertama).

Aku mulai dipengaruhi GM ketika menjelang Aliyah (sekolah menengah atas), aku mulai intensif ke Perpustakaan Wilayah Sumatera Utara di Medan. Jarak perpustakaan ini dari rumahku kira-kira 10-15 kilometer, mungkin lebih karena rumahku terletak di Kecamatan Medan Timur, sementara perpustakaan ada di daerah Barat. Biasanya aku ke sana dengan bersepeda. Di situ ada lebih banyak lagi bundel TEMPO yang bisa aku baca. Salah satu favoritku adalah Catatan Pinggir. Waktu buku-buku kumpulan Catatan Pinggir (I-III) di terbitkan, dengan senyum bangga pada diri sendiri, aku sering berbicara dalam hati, “Hm, aku sudah membaca tulisan ini dan itu dan itu, ketika dicetak untuk pertama kalinya”. Di masa-masa inilah aku mencoba membaca TEMPO lebih disiplin. Setiap akhir minggu, aku akan datang ke salah satu trotoar Jl. Sutomo Medan untuk membeli TEMPO edisi retuur, yaitu TEMPO edisi minggu lalu yang tidak laku kemudian sampul depannya dipotong untuk dikirimkan kembali ke Agennya.

Catatan Pinggir GM secara kognitif memperkenalkanku pada banyak hal baik dan bagus di dunia sebelah sana. Dunia yang mungkin tidak akan pernah kukenal kalau tidak membaca tulisannya atau bila aku hanya bergelut dengan wacana kemadrasahanku. GM mengenalkan padaku Samuel Becket, penulis drama, yang judul drama surrealisnya Waiting for Godot, kemudian menjadi kata-kata yang dianggap paling mewakili gambaran psikologis orang-orang yang menunggu sesuatu yang tidak pernah jelas “whom” dan “when“-nya. GM juga mengenalkanku pada Umberto Eco, semiotikus yang dianggap paling otoritatif, ketika menceritakan novel sejarah-detektifnya, The Name of the Rose. GM sebetulnya tidak menceritakan novel itu, dia hanya menceritakan perjalanan psikologis tokoh Adso, seorang pemuda Benediktin yang dititipkan ayahnya pada seorang Fransiskan yang meneliti pembunuhan-pembunuhan di sebuah biara. Novel ini kemudian difilmkan. Sang Fransiskan diperankan oleh Sean Connery sedangkan Adso oleh Christian Slater. Selain GM, film ini juga diresensi di edisi lain TEMPO, yang di antaranya menggambarkan betapa menyeramkannya biara tersebut karena ketika kedua protagonis itu datang, pintu gerbang dibuka oleh biarawan yang berwajah seperti hantu. GM sendiri memberikan pengantar yang menggugah ketika menulis tentang novel ini, kira-kira katanya, “Pernahkah Yesus tersenyum?”. Novel ini adalah usaha mencari jawaban pertanyaan itu. Resensi film ini menarik, tetapi bagaimana GM mengutip dan memberi perspektif terhadap “The Name of the Rose”-lah yang membuatku menerobos jam malam di rumah dan menyaksikan film ini di sebuah bioskop Taman Hiburan Rakyat pada midnight show-nya. Sepi sekali di bioskop malam itu. Pada kesempatan lain, GM memperkenalkanku pada Milan Kundera, ketika menulis tentang imagologi, yaitu ketika bungkus lebih penting dari pada isi. Pada kesempatan lain, GM memperkenalkanku pada sebuah pepatah Italia tentang penguasa yang kehilangan kredibilitas, “Ketika Raja lewat, petani menunduk, tetapi kentut diam-diam”. Tetapi yang terpenting mungkin, dalam banyak tulisannya, GM mengajarkanku bahwa yang terpenting adalah bertanya, bukan menjawab. Catatan Pinggir, kalau boleh diringkas adalah Kecerdasan yang ditunjukkan dalam kedalaman wawasan dan analisa, dan Kebijaksanaan yang ditunjukkan dalam pertanyaan-pertanyaan dan refleksi diri. Aku merasakan betul bahwa GM bukan mengutip saja atau mencari ilustrasi, tapi memang memikirkan apa yang dibacanya, baru kemudian menuliskannya kembali. Konon, Catatan Pinggir dihubungkan dengan marginalia, coretan-coretan yang ditambahkan pemilik/pembaca di margin halaman sebuah buku. Catatan-catatan itu biasanya menyiratkan pertanyaan, komentar, bahkan sentimen penulisnya terhadap bagian tertentu dari naskah dari halaman tersebut, tetapi tidak pernah ditujukan untuk “mengalahkan” bukunya. Cukup sekedar sebagai catatan pinggir, marginalia.

Waktu remaja itu, setiap kali membaca Catatan Pinggir, aku membayangkan bagaimana GM membaca demikian banyak karya terbaik manusia dari berbagai zaman dan latar budaya. GM itu kan berasal dari Batang, kota kecil di Jawa Tengah, dan tidak menyelesaikan kuliahnya di Universitas Indonesia. Pertanyaanku yang amat naif adalah, “Bagaimana bisa dia mendapatkan buku dan manuskrip sedemikian banyaknya? Bagaimana dia bisa memilih dan mendapatkan sebuah buku, ide, adegan kebudayaan, dan sebagainya, yang kemudian dianggapnya layak untuk dituliskan di Catatan Pinggir?”… Sebagai remaja, aku membandingkan apa yang dimiliki GM dengan apa yang aku miliki. Bapakku sangat suka pada buku. Tapi dari seribuan buku yang ada di rumah (waktu aku remaja itu), seingatku tidak ada satupun buku berbahasa Inggris. Bahkan kamus Inggris-Indonesia John Echols yang bisa dianggap pantas itu pun tidak ada. Yang ada kamus Arab-Inggris-Indonesia. Tapi itu tampaknya karena Bapak ingin kamus Arab-Indonesia, bahasa Inggris hanya bonus. Tidak ada karya sastra (kecuali yang dipinjam dari perpustakaan). Tidak ada buku humaniora sekuler seperti yang dikutip GM di Catatan Pinggirnya. [Kenapa aku jadi kurang "menghormati" Bapak yang membaca Syaikh Rasyid Ridha, Jamaluddin Al-Afghani, Enam Sunan Hadits, Empat Imam Madzhab?]

Ketika kuliah di Bandung, dengan cara berpikir yang lebih matang aku lebih menikmati Catatan Pinggir GM. Aku malah sempat selama dua tahun menjadi “loper” TEMPO di kampus, yang waktu itu memberikan potongan harga mahasiswa untuk setiap edisinya. Tapi kemudian kontakku dengan Catatan Pinggir (dan TEMPO) terputus (dan tidak tersambung lagi) ketika TEMPO dibreidel. Kemudian aku mengikuti terpecahnya TEMPO sebagai sebuah perusahaan bisnis, ketika sebagian, dengan alasan idealisme, menolak investor yang konon berasal dari konglomerat (yang dicurigai akan menghilangkan independensi redaksional TEMPO), sementara sebagian lain menerima dengan alasan-alasan pragmatisme. Mungkin ada tempat lain yang bisa menceritakan kekisruhan internal ini lebih lengkap. Tapi apapun situasinya, aku masih mengenang pernah masuk ke lantai sekian di Gedung TEMPO Jl. Rasuna Said Jakarta, menemui seseorang di keredaksian TEMPO untuk membayar tunggakan tagihan pelanggan–karena kelalaianku sendiri–hampir satu juta rupiah (waktu itu harga pereksemplar masih sekitar 2500an rupiah). Karena sedemikian baiknya penyelesaian waktu itu, aku diberi 2 buah bloknote ulang tahun 20 TEMPO dan dan sebuah buku agenda tahunan dengan tulisan besar TEMPO di sampulnya. Sesudah TEMPO diberangus, setahuku GM kemudian menulis Catatan Pinggirnya di newsletter yang diterbitkan AJI (Aliansi Jurnalis Independen). Setelah reformasi, ketika TEMPO terbit kembali, GM kembali menulis Catatan Pinggir di sana. TEMPO bahkan sempat menerbitkan edisi Inggrisnya. Tapi dunia media massa cetak Indonesia sudah berubah. Kemudian TEMPO menjadi koran, dan seterusnya dan seterusnya.

Aku bukanlah fans GM, karena itu, aku tidak terus-menerus mencari di mana dia berada atau apa saja yang dituliskannya saat ini [dulu dalam salah satu Catatannya, GM mengutip Napoleon Bonaparte yang mengatakan, "Tidak ada akal sehat di kepala seorang fanatik"]. Yang jauh lebih baik yang kurasa bisa kulakukan adalah meneruskan perkenalan yang telah dia mulai dulu. Di Bandung, aku kemudian mencari Samuel Becket, Umberto Eco, Fyodor Dostoyevski, dan lain-lain… Beberapa di antaranya kutemukan, beberapa yang lain hingga kini belum. Beberapa di antara yang kutemukan kucari kembali, beberapa di antaranya kulupakan.

Tentang Dostoyevski, aku pernah menemukan The Brothers Karamazov-nya dalam cetakan yang amat tua, di Perpustakaan Pusat ITB, tapi kemudian kehilangan lagi, dan sampai sekarang masih terus kucari. Hingga saat ini, aku hanya memiliki bab “The Grand Inquisitor” dari novel itu. Konon katanya, demikian penting bab itu sebagai kritik Dostoyevski terhadap praktik gerejawi, sehingga dia bisa dibaca terpisah dari bagian The Brothers Karamazov yang lain. Tahun 2006, aku menemukan buku kecil berjudul sama, tetapi kecewa karena disitu dituliskan “abridged edition”. Tentang Milan Kundera, tampaknya wacananya yang lebih dalam masih terlalu tinggi buatku.

Dalam meneruskan perkenalan oleh GM itu aku kemudian menemukan sebuah irama yang pribadi. Aku merasa ketika aku mencari sendiri, dunia yang terbuka ini mengantarkanku kepada keajaiban-keajaiban baru pikiran dan tindakan manusia. Yang mungkin berbeda atau tidak seperti yang didapatkan GM dalam perkenalannya sendiri. Irama yang pribadi ini sering mengantarkanku meloncat dari satu keajaiban ke keajaiban yang lain. Tidak ada yang linier, tidak ada sekuensial yang kaku. Dulu, dari Becket, yang kutemukan Waiting for Godot-nya di British Council Bandung, aku menemukan George Bernard Shaw (semata-mata karena lemari bukunya dekat saja sebetulnya). Aku juga kemudian mendapatkan The Name of the Rose Eco, dari seorang teman di FSRD ITB, Alfathri Adlin, yang beberapa tahun yang lalu akhirnya menerjemahkan buku itu, termasuk naskah-naskah Latin di dalamnya [yang pasti memusingkan pembaca teks Inggrisnya, termasuk juga aku]. Yang masih dilengkapi Alfath lagi dengan sejenis companion-nya. Aku juga jadi sangat akrab dengan British Council, Pasar Buku Cikapundung, dan salah satu kios buku di Palasari yang mengambil spesialisasi novel dan buku-buku “unik”. Begitulah kira-kira bagaimana aku mencoba meneruskan perkenalan yang sudah dimulai GM.

Aku meneruskan perkenalan dan menemukan irama yang lebih pribadi itu bukan karena aku ingin membuktikan apakah GM benar atau salah. Kekagumanku tidak dicampuri oleh afirmasi atau falsifikasi terhadap tulisan dan pikiran-pikiran GM. Kekagumanku dalam hal ini adalah tentang bagaimana sabar dan tenangnya GM ketika menjadi murid ketika berhadapan dengan orang-orang yang dia tuliskan itu. Itulah yang bagiku layak untuk dijadikan inspirasi. Jadi, setiap kali aku ke toko buku, entah toko baku baru atau toko buku loak, di sebelahku berjalan Goenawan Mohammad.

Epilog: Tulisan ini kubuat hanya berdasarkan ingatan. Karena itu belum ada link yang mungkin membantu untuk memahami dan memeriksa beberapa hal yang kusebutkan. Aku berharap, kalau ada waktu cukup, link-link itu akan kusambungkan.