BAGAIMANA FARID HARDJA? SUDAH LEWAT, SEMPRE!
11 November, 2008
Jadi sekarang terbukalah sudah bahwa ini sebetulnya (setidaknya begitu) bukan persoalan sah-tidak sahnya pernikahan. Bukan soal Fiqih Munakahat. Bukan soal Islamik. Hell to MUI!
Bukan pula soal anak yang dipekerjakan. Bukan soal Hak-hak Anak yang dirampas. Apalagi Human Trafficking..Muke lu jauh! Hell to Komnas Anak!
Ini persoalan C-I-N-T-A, Bung! Sayup-sayup dari Wiltshire, Sting menyanyikan: “Love Stronger than Justice”…sebuah lagu yang sekonyong-konyong menjadi ironi di rumah Pujiono Who? waktu Seorang Seto datang ke rumahnya dan dengan alasan demi keadilan ingin membebaskan seorang anak perempuan yang mengaku cinta laki-laki yang 10 tahun lebih tua dari ayahnya.
Kemudian ada lagi Farid Bani Adam a.k.a Farid Hardja waktu masih muda beberapa dekade lalu dari Bandung bersenandung tentang Karmila, “…kau berulang tahun kutuang minuman ke dalam gelas, pada saat itu kutau usiamu baru sebelas…tak kuduga kau balas cintaku, penuh kasih, bagai ‘rang dewasa…usia muda tak tampak padamu…dikau, yang terakhir…” Di akhir tahun 2008, Farid Hardja jadi terdengar seperti seorang laki-laki yang terlalu mabuk atau terlalu besar kepala oleh cinta, karena sebelum Seorang Seto datang, Pujiono Who? sudah merepet tentang dua rencana pernikahan berikutnya: 7 tahun dan 9 tahun. Ulviana Siapa Itu bukan Karmilanya yang terakhir.
Awalnya, sudah agak mengerenyit kening melihat seorang laki-laki setengah umur membual tentang ambisinya mencari seorang calon manajer dari kalangan anak-anak perempuan yang belum berulang tahun ke-12, kemudian akan membuat anak itu menguasai dunia bisnisnya di usianya yang ke 21. Dan agar memenuhi ajaran agama, anak perempuan itu dinikahi saja sekalian. Too good to be true… itulah yang disebut bualan.
Tapi yang amat membuat ingin muntah adalah bagaimana Ibu Suri Aisyah, istri Nabi Kekasih Allah, Muhammad [cinta, rindu, dan terima kasih baginya], di bawa-bawa dalam kasus ini, disorong-sorongkan dalam bentuk sebuah buku ke depan kamera televisi. Melihat seorang laki-laki snob memamerkan mobil-mobil mewahnya dan akhirnya membawa reporter televisi beserta kamerawannya keliling-keliling di jalan raya dengan korvet mahal merek whatever, kemudian mengklaim meniru pernikahan seorang Nabi—yang tidak pernah memikirkan harta dalam hidupnya dan memilih untuk hanya mewariskan kehidupannya an sich bagi orang-orang sesudahnya, sebetulnya sudah cukup untuk membuat seorang bertipe Umar bin Khattab menumpahkan darah atas nama kehormatan Nabi!
Yang SAAT INI sungguh-sungguh berani menghadapi orang seperti ini: Kaya, Agamania* sambil tetap mempertahankan syahwat yang unik dan berapologi: “Ustad juga manusia”, tampaknya justru yang tidak terlalu peduli pada agama. Tentu saja tidak perlu sungguh-sungguh tidak peduli—cukuplah yang berpendapat agama itu urusan pribadi. Orang-orang yang tidak pernah menjadikan agama sebagai argumentasinya ini yang justru mau repot-repot datang ke Pujiono Who? mengurus nasib anak perempuan di bawah umur yang dinikahinya.
Begitulah terasa mengerenyit lagi kening ketika melihat Seorang Seto, yang bukan ulama, menasehati seorang yang memasang “syeh” di depan namanya, tentang hak-hak anak perempuan dan bagaimana memperlakukan mereka sebaiknya. Seolah-olah ingin menunjukkan bahwa inilah seorang pemilik pesantren yang ternyata masih juga tidak bisa mengendalikan syahwatnya sendiri. Seorang Seto tidak pernah bersisi-sisian dengan harakah Islam tertentu, demi menegakkan ajaran Islam di muka bumi ini, tapi itulah yang dilakukanya terhadap seorang pemilik pesantren.
Jadi kalau Seorang Seto sampai harus turun tangan menasehati seorang syeh tentang akhlak terhadap anak perempuan, siapa yang ditampar wajahnya sebenarnya? Kenapa bukan Hasyim Muzadi dikawal Pagar Nusa yang ke sana? Kenapa bukan Dien Syamsuddin diantar Tapak Suci? Apa kabar Abdurrahman Wahid? Apa kabar Abdullah Gymnastiar? Apa tidak bisa pengasuh pondok pesantren dinasehati oleh pengasuh pondok pesantren yang lain saja? Apa Undang-Undang Perkawinan itu bukan para ulama Indonesia yang dulu menyusun dan memverifikasinya demi kepentingan umat Islam Indonesia? Apa lebih seksi bagi tokoh-tokoh agama di sini untuk bicara dan bicara dan bicara tentang nasib bangsa dibanding bertindak jelas dan tegas demi nasib seorang anak perempuan in flesh and blood?
Dari mengerenyitkan kening saja, akhirnya sesaklah napas melihat betapa menakutkannya bila di antara kita orang-orang Islam yang memiliki pengaruh dan kekuatan hanya diam menghadapi keadaan seperti ini. Sesak napas melihat kemudahan syarat dan rukun pernikahan dalam Islam dimanfaatkan dengan cara seperti itu. Melihat bagaimana anak-anak perempuan diperlombakan untuk seorang laki-laki yang pantas menjadi ayah mereka, kemudian dipindahtangankan begitu saja dengan embel-embel pernikahan dari ayahnya kepada laki-laki lain. Sangat sesak dan berat menarik napas melihat bagaimana perempuan bahkan dalam usia semuda itu sudah dijadikan komoditas atas nama agama dan ditempatkan dalam posisi point of no return. Kemudian BAYANGKAN APA YANG DIPIKIRKAN OLEH ORANG-ORANG YANG SUDAH BERPRASANGKA TERHADAP ISLAM ketika mereka melihat peristiwa ini!
Dan akhirnya, tentang cinta.
Apa yang bisa dikatakan pada seorang anak perempuan 11 tahun yang mengaku sudah cinta pada laki-laki 43 tahun yang menikahinya beberapa minggu dan tidak mau dipisahkan barang seharipun, kecuali serangkaian pertanyaan retorik?
Apa yang dia maksud dengan “cinta”? Apakah ini sejenis Cinta Erotik? Erotisme apa yang bisa dirasakan anak perempuan semuda itu? Apakah ini Platonik, dan kalau Platonik, demikian lemahkah figur ayah hingga dia harus dicarikan ayah lain, dan mengapa harus dengan status suami istri? Mengertikah anak ini wilayah seperti apa yang dimasukinya? Apakah masuk akal menganggap pernyataan cinta seperti itu sebagai sesuatu yang masuk akal?
Tapi sayangnya cinta tidak bisa terlalu banyak ditanya. Kalau dipertanyakan, itu artinya dia dipancung. Kalau dia dipancung, di depan altar kematiannya, akan ada sejuta penyair yang bersedia menyerahkan nyawa demi menjaga kehidupannya. Bahkan kaum sufi pun mungkin akan menangis bila cinta terlalu banyak diperdebatkan, bukan dirasakan.
Jadi kupikir, kalau cinta itu jujur, maka inilah penjelasan untuk semua kerumitan ini. Seorang tua yang sakit-sakitan jatuh cinta pada seorang anak ingusan bukanlah dongeng di dunia ini. Seorang anak ingusan yang jatuh cinta pada seorang yang tua dan sudah ingusan kembali, juga bukan tidak pernah terjadi. Cinta adalah penjelasan yang tidak masuk akal tapi sempurna.
Jadi semuanya bukan hukum. Bukan bisnis. Bukan agama. Semuanya adalah cinta. Lasciar ingenuo ma sempre! Biarlah Naif asal Selamanya! Dan sesudah semua keributan ini, kita akan bergegas keluar sambil pura-pura menghibur kawan berdebat tadi bahwa dunia akan baik-baik saja dan si anak perempuan akhirnya akan bahagia juga, dan kemudian dalam perjalanan pulang sendirian kita akan memikirkan lagi semuanya dengan perasaan dibodohi dan dipermalukan, geram dan masam, seperti seorang tamu dijamu air teh yang diberi garam, kemudian menelannya semulut penuh.
Epilog:
Dalam salah satu dramanya, School for Wives, Moliere, seorang dramawan Perancis Abad 17, yang konon kalimat-kalimatnya di Perancis dikutip seperti Shakespeare dikutip di Inggris, menceritakan Arnolphe yang berusaha membentuk pengantin perempuannya yang jauh lebih muda, Agnes, menjadi seperti yang diinginkannya, dengan memasukkannya ke biara, dan akhirnya gagal. Drama itu menunjukkan bagaimana kemunafikan, ekstrimitas, kesombongan, sikap tiranik, dan ketamakan akan dikalahkan oleh kemurnian, sikap seimbang, keinginan untuk selalu membebaskan, dan mengalir bersama rencana alam.
Itulah yang awalnya aku pikirkan ketika pertama kali mendengar pernikahan—dan semua rasionalisasinya—antara Pujiono Who? dan Ulviana Siapa Itu di sebuah desa di sekitar Semarang. Tapi kemudian tampaknya pikiranku tentang soal ini perlu direorientasi.
Yang sangat ingin aku ketahui, apakah reaksi Seorang Seto, ketika di depannya seorang anak perempuan semuda itu berbicara tentang cinta.. Agaknya beliau belajar lebih banyak dalam hal ini dibanding ketika menjadi konsultan dalam kasus Maia vs Dhani atau Tamara vs Rafli.
Beberapa tentang Moliere, dapat ditemukan di Encarta, atau, yang ada kubaca pada Encyclopedia of World Writers atau juga di Merriam-Webster Encyclopedia of Literature.
*Agamania maksudnya tidak perlu benar-benar tokoh agama—cukuplah memakai busana padang pasir kalau bisa warna putih. Tidak perlu kafiyeh, cukup kepala berlilit sorban seperti Pangeran Diponegoro. Ada asesori tasbih, kalau tidak bisa diputar-putar di jari, kalungkan saja di leher. Jangan lupa jenggot, tapi ingat haute couture lebih penting dari pada jenggot.
Do’a Jenderal Douglas MacArthur
7 Mei, 2008
Tuhan buatkan bagi hamba seorang putra yang cukup kuat untuk menyadari kalau ia sedang lemah, dan cukup tabah untuk menghadapi dirinya sendiri kalau ia sedang takut. Putra yang bangga dan tidak putus asa kalau kalah secara jujur, dan rendah hati serta lembut dalam kemenangan.
Berikanlah bagi hamba seorang putra yang bukan cuma bisa berharap, tetapi juga mampu berbuat. Seorang putra yang mengenal Engkau. Jangan bawakan ia ke jalan yang serba mudah dan serba enak, tetapi biarlah ia belajar berdiri di tengah badai dan biarlah ia merasakan penderitaan orang-orang yang gagal.
Buatkanlah bagi hamba seorang putra yang hatinya jernih, yang cita-citanya tinggi. Putra yang dapat mengendalikan dirinya sendiri sebelum mencoba mengendalikan orang lain. Yang meraih masa depan tetapi tidak melupakan masa lalu.
Dan kalau semua itu sudah menjadi miliknya, hamba mohon agar dia diberi rasa humor. Berilah juga dia kerendahan hati, supaya ia selalu ingat kesederhanaan dari keagungan sejati, keterbukaan dan kebijaksanaan sejati, dan kelemahan dari kekuatan sejati.
Epilog: Ini adalah salah satu do’a terbaik yang pernah aku ketahui dan dengar. Aku mencoba mencari otentifikasi benarkah ini memang dinyatakan oleh Douglas Mac Arthur. Tapi sampai sekarang belum kutemukan. Bahkan mencari naskah asli Inggrisnya pun belum selesai. Naskah ini dihadiahkan padaku oleh seorang teman, Sri Prafanti, namanya, tgl 7 Maret 1989. Aku mendengar dia menyelesaikan kuliahnya di Politeknik Universitas Sumatera Utara. Tapi kabar lain tidak lagi kuketahui. Selain versi ini, aku pernah menemukan versi lain, tapi kupikir, inilah yang terbaik.
Guru-Kematian Yang Pertama
4 Mei, 2008
Setiap kali ‘Idul Fithri, dan diingatkan bahwa inilah hari ketika kita kembali kepada kesucian kita, saya selalu teringat ritual yang dijalankan sebuah keluarga selama bertahun-tahun, hingga saat ini. Dulu di Keluarga Remaja Islam Salman ITB ada seorang pembina, yang demi menjaga nama baiknya, biarlah di sini saya hanya menyebutnya “Enya”. Dulu, di awal-awal 90-an kami sama-sama menyukai Enya [sampai sekarang pun saya masih mendengarkannya]. Terutama lagu-lagu “Book of Days” dan “How Do I Keep from Singing”, dari album pertamanya “Shepherd Moon“. Karena tidak banyak yang menyukai musik Enya yang bergenre New Age dan Folk, awalnya kami saling terkejut karena ternyata di Karisma ada orang lain yang tahu lagu itu. Kami sering berbagi dan apa yang saya tuliskan merupakan hasil dari “enyagrafi” yang panjang selama beberapa tahun.
Ritus itu adalah saling meminta maaf dan memaafkan, atau ta’affu, pagi-pagi di ‘Idul Fithri, sebelum keluarga ini berangkat sholat ‘Id bersama-sama. Jadi, pagi-pagi setelah mandi, mereka semua akan duduk melingkar, ayah Enya, ibu Enya, kemudian anak-anak mereka. Ibu akan meminta maaf pada ayah. Anak yang paling tua, akan melanjutkan giliran ta’affu. Sambil membungkuk mencium tangan ayahnya, dia akan memberikan testimoni tentang kesalahan-kesalahannya, meminta maaf, dan meminta dido’akan oleh ayahnya. Kemudian dianjutkan pada ibu. Setelah itu, dia akan kembali ke posisinya, dan prosesi diteruskan oleh anak kedua. Setelah meminta maaf pada kakak pertamanya, anak kedua akan kembali ke posisi awalnya, dan menunggu adiknya meneruskan ta’affu.
Setelah semuanya meminta maaf dan dimaafkan, yang biasanya lebih banyak diisi air mata dari pada kata-kata, ayah mereka akan melakukan sesuatu, yang bagi saya merupakan hal yang paling penting diceritakan dari ritus ini. Sang ayah akan menyampaikan nasihat-nasihatnya.
Enya mengatakan bahwa pesan-pesan favorit ayahnya dalam ‘Idul Fithri bukanlah tentang kesenangan dan kehidupan, tapi tentang kehilangan dan kematian. Dengan perasaan yang penuh, sering dengan air mata yang ditahan, ayah Enya akan memulai nasihatnya dengan kalimat, “Mungkin, ini Ramadhan kita yang terakhir… Mungkin, inilah kesempatan terakhir kita untuk saling memaafkan… Mungkin tahun depan, kita tidak akan bersama-sama lagi seperti ini… Kita tidak tahu siapa di antara kita yang akan pergi terlebih dahulu… Jadi, ayah ingin menyampaikan beberapa hal pada kalian semua….”
Enya bercerita tentang penghayatan pribadinya. Baginya, pada saat-saat seperti itu, kematian jadi terasa sedemikian dekat pada keluarganya.
“Ayah seperti sedang berbicara dari dipan kematiannya, dan menyampaikan wasiat terakhirnya pada ibu dan kami anak-anaknya. Atau akulah yang sedang berbaring di ranjang kematianku sementara ayah membimbingku agar ikhlas terhadap semua masa laluku, dan berserah diri pada Allah terhadap apa yang akan terjadi pada masa depanku”.
“Sebelum mengatakan apapun, hanya dengan mengingatkan betapa keterpisahan begitu dekat, dan kematian jauh lebih dekat lagi, kami semua akan menangis. Aku merasa, di saat-saat itu betapa tidak ada artinya ego, kecerdasan, prestasi sekolah, apalagi fasilitas. Semuanya lenyap di hadapan keinginan untuk selalu memeluk kakak, adik, ayah dan ibu, sampai kapanpun, walau apapun yang terjadi. Sehari-hari kami adalah anak-anak yang diam-diam atau terang-terangan, berkompetisi satu-sama lain. Sementara di sekolah kami jarang tidak menjadi juara di levelnya masing-masing. Semakin kami beranjak dewasa, semakin jelas runtuhnya ego dan persaingan itu, dan semakin jelas suara isak yang kami tunjukkan.”
“Hanya diingatkan dengan ini, aku memulai pelajaran pertamaku tentang apa yang terpenting dalam hidup ini sesungguhnya. Aku belajar untuk mulai menyadari apa yang sejatinya kujaga dan kumiliki. Kalau semuanya sudah akan pergi dan menghilang, cuma makna yang akan tertinggal. Ketika nanti nasihat-nasihat beliau tidak lagi bisa kudengar, maka makna dari nasihat-nasihat itulah yang akan terus memberiku inspirasi. Aku percaya, kehidupan batin tidak hanya bisa diperkaya oleh pengalaman-pengalaman baru, tetapi jauh lebih penting lagi, diperbarui oleh makna pengalaman-pengalaman yang berlangsung dulu.”
“Dulu, sempat juga aku berpikir betapa absurdnya membicarakan kematian di hari raya ‘Idul Fithri. Setelah menangis begitu, kami semua anak-anak akan buru-buru membasuh muka, sarapan sebagai sunnah sebelum shalat ‘Id, dan terbang ke lapangan. Menangis mengingat kematian sama sekali di luar plot ‘Idul Fithri kan? Tapi belakangan, bertahun-tahun setelah beliau meninggal, barulah aku menyadari bahwa mungkin saat itu memang saat yang tepat. Kalau kita semua menginginkan kematian datang ketika kita telah disucikan, ketika kita baru menyelesaikan salah satu ujian terberat tentang integritas hubungan kita dengan Tuhan, yang kata nabi, merupakan peperangan yang lebih besar dari pada perang melawan kaum kafir, maka hari di saat kita kembali ke pada fithrah merupakan saat yang tepat untuk memikirkan kematian. Barulah kusadari bahwa sangat kuat tampak pada ayah bahwa seandainya dia boleh memilih waktu untuk bertemu maut, beliau ingin peristiwa itu terjadi di saat-saat kesucian hidup masih terasa dekat darinya. Aku sadari pula bahwa ayah ingin sekali kami punya asosiasi yang indah tentang kesucian dan kematian. Bahwa semua kematian yang indah selalu berhubungan dengan hidup yang disucikan, bahkan dengan waktu yang disucikan. Bahwa hanya orang-orang yang berusaha keras menyucikan hidupnya yang akan menganggap kematian seperti tamu yang ditunggu-tunggu dan dirindukan. Hanya mereka yang menyucikan hidupnya yang akan mati dengan indah dan sederhana.”
“Yang langsung aku rasakan waktu itu adalah seberapa besar cinta beliau pada keluarga, dan betapa berharga beliau bagi kami semua. Kami semua memang menangis, tapi tidak seorangpun yang merasa dikecewakan atau dikecewai. Kami menangis karena kata-katanya membuat kami semua berada dalam titik yang sama: tidak ada ayah, tidak ada ibu, tidak ada anak-anak. Yang ada adalah manusia-manusia yang amat lemah dalam ketidakpastian peristiwa-peristiwa di masa depan. Hidup kami sepanjang tahun bukanlah hidup yang sempurna. Kadang-kadang ketegangan emosi terjadi, kadang-kadang salah satu pihak tidak bertindak seperti yang diharapkan oleh yang lain. Tapi pada ‘Idul Fithri, ayah mengajarkan bahwa semua ketidaksempurnaan itu tidak berarti di hadapan kesucian dan maut. Semua keluh-kesah sehari-hari hanyalah hampa. Pembicaraan tentang maut memberi kami peta emosi yang amat kuat dan nyata. Mungkin belum memberi peta kognitif yang utuh saat itu. Mungkin ayah ingin kamilah yang melengkapi peta kognitif itu sepanjang hidup kami. Tapi pengalaman emosional ketika menangis bersama-sama itu akan luar biasa kuatnya, mengalahkan pengalaman emosional ketika kami menangis sendiri-sendiri karena kecewa terhadap anggota keluarga yang lain. Kamu tahu, bahkan hingga saat ini, kalau sulit sekali rasanya aku memaafkan orang lain, aku akan langsung mengingat maut. Mengingat betapa menyakitkannya kematianku nanti seandainya aku belum berserah diri pada Allah dan menerima apapun yang terjadi di dunia ini sebagai yang terbaik dari Allah. Dengan pesan-pesan kematian itu, aku merasa betapa dengan keterbatasannya sebagai seorang ayah, bahkan yang diingatnya berkaitan dengan maut masih tetap kami. Setiap tahun, diukurnya jaraknya dengan maut, dan diukurnya pula jarak anak-anak dan istrinya dengan kebenaran. Belakangan setelah semakin banyak membaca, bagiku, itulah pelajaran tentang cinta yang paling dalam dan suci. Semoga inilah salah satu bentuk cinta ‘yang hadir dalam ingatan tentang Allah, dan berpisah juga dalam ingatan tentang Allah’. Aku tidak pernah berhenti berdoa semoga dengan cintanya yang seperti ini pada kami, keluarga bukan menjadi fitnah baginya di akhirat nanti. Semoga beliau dipayungi oleh payung Allah di mahsyar, dan disediakan Allah singgasana di dekatNYA yang dicemburui para nabi.”
Saya (Nash) tau bahwa do’a ini diinspirasi oleh dua hadits, yang pertama tentang tujuh golongan yang akan dipayungi Allah ketika tidak ada lagi yang memayungi di mahsyar dan kedua hadits qudsi tentang hubungan cinta atas nama Allah yang ganjarannya dicemburui oleh nabi-nabi.
“Aku beruntung karena belajar tentang kematian dari ayah, bukan dari buku-buku atau guru-guru agama di televisi. Aku bahkan merasa AMAT BERUNTUNG dalam soal ini. Aku bisa melihat ayah setiap hari, aku bisa memeriksa apakah pelajarannya tentang kematian menjiwai semua perilakunya, sekalipun mungkin beliau tetap bukan seorang “guru kematian” yang sempurna. Dengan ini, beliau sebetulnya bukan mengajari aku, tapi menyentuhku secara pribadi, dan menyentuhkanku dengan kematian. Aku bersyukur karena bertahun-tahun setelah beliau meninggal, aku mulai memahami bahwa hidup (dan agama, tentu saja) bukanlah apa yang kubaca di buku-buku, tapi apa yang bisa kulihat dalam hidupku sehari-hari. Aku tidak bisa memahami kematian hanya dengan membandingkan tulisan seorang sufi dengan tulisan seorang dokter. Aku hanya bisa memahami maut kalau aku menemukan pengalaman-pengalaman yang dekat dengannya dalam hidupku sendiri. Memasuki tahun ketiga setelah pesan-pesan kematian itu mulai aku sadari, ayah meninggal setelah sakit tiba-tiba selama kurang lebih dua minggu. Sangat tiba-tiba rasanya, karena ayah tidak dirawat di rumah sakit, hanya ibu yang sempat merawat. Beliau sempat sembuh dua hari dan masuk kantor (mungkin bisa dianggap firasat karena pada ibu, beliau mengatakan akan pulang dua hari lagi, dan jenazah beliau memang diantarkan dari rumah dinas ke rumah keluarga dua hari setelah beliau sembuh), dan meninggal hanya 15 menit setelah karyawan terakhirnya menerima honor untuk bulan depan (seolah-olah dua hari itu memang diberikan untuk membereskan urusan-urusan kantornya). Ayah meninggal sendirian di meja kantornya. Saksi mata pertama mengatakan beliau seperti orang tertidur, sehingga tidak berani membangunkan. Tidak ada pesan, tidak ada wasiat untuk kami. Tapi seandainya aku seorang ayah yang hampir setiap saat sudah merasakan maut demikian dekat, apa perlu lagi menyampaikan pesan dan wasiat? Apa tidak kujadikan saja hidupku sebagai sebuah pesan dan wasiat yang utuh bagi istri dan anak-anakku? Sebuah pesan dan wasiat yang hidup, bukan hanya sekadar kata-kata terakhir atau rumusan pembagian harta? Aku pasti tidak menyadari ini hingga beliau benar-benar pergi. Kepergian ayah membuktikan kata-katanya bahwa kematian itu demikian dekatnya. Tidak ada waktu untuk menunda mengirimkan pesan dan wasiat hingga kita sekarat nanti.”
Mengambil pelajaran dari ritus ta’affu di keluarga Enya, semakin saya (Nash) percaya bahwa setiap keluarga harus punya tradisi tentang banyak hal dalam hidup ini…tentang berbagi, tentang leadership dan followership, bahkan tentang kematian. Bukan tradisi tanpa makna yang saya maksud, tetapi sebuah tradisi yang menyentuhkan setiap anggota keluarga itu pada hal-hal paling mendasar dalam hidup ini. Sebuah tradisi yang mungkin akan menghadapkan tiap anak pada sisi gelap hidup, tapi Ayah atau Ibu tetap mengatakan “Walau Bagaimanapun, Kamu OK”. Sebuah tradisi yang menjadi laboratorium bagi anak untuk mengukur kesiapannya untuk menghadapi sisi gelap itu nantinya sendirian. Sebuah tradisi yang mewakili metafora Jibran Khalil Jibran, bahwa “Anakmu bukanlah anakmu, mereka adalah putra-putri Kehidupan… Engkau hanya menjadi busur dan mereka anak panahnya, Sang Pemanah-lah yang tahu sasaran yang sejati”. Dalam hal yang berkaitan dengan tradisi spiritual, ketika sebagian orang justru mengalami krisis ketika harus mulai menguji “agama yang selama ini dikenalkan oleh orang tuanya” untuk dijadikan sebuah “agama pribadi” sebagai tanda kematangan spiritualnya, anak-anak yang mengalami tradisi seperti ini, akan menjalani perjuangan “mencari agama pribadi” ini dengan lebih tenang, karena sejak dini, mereka telah berada di jalur yang benar.
Dalam hal ayah Enya, jangan bayangkan beliau seorang ayah yang sempurna. Konon kabarnya beliau baru menjadi sarjana di usia hampir 45 tahun, setelah memiliki 4 orang anak. Konon ibu Enyalah yang membantu memindahkan ratusan halaman tulisan tangannya ke dalam bentuk ketikan halaman skripsi, ketika ayahnya hampir-hampir putus asa. Suka humor tapi pemalu sehingga butuh waktu untuk akrab dengan orang lain. Baru memiliki penghasilan tetap ketika usianya 40 tahun. Penghasilan ibu Enya lebih besar dari ayahnya. Di lingkungan sosialnya, hampir tidak punya peran apa-apa selain menjadi anggota pengajian setiap malam Jum’at, sesekali menjadi khatib Jum’at cadangan, menjadi imam shalat tarawih cadangan. Enya sendiri mengakui bahwa ada tahun-tahun ketika dia masih butuh membangga-banggakan keluarga, tentang ayahnya dia “…proud of him, but hide him…respect him too much, almost pitied him”.
Tetapi di balik semua cerita tentang pendidikan formal, keadaan finansial, prestasi profesional, dan semua peran sosialnya, saya juga tahu bahwa perbincangannya tentang kematian dan keberpisahan yang demikian terbuka tidak datang begitu saja. Perbincangan itu bukan sekadar kata-kata. Kebiasaannya itu bukan tradisi yang bisa dilakukan oleh orang biasa. Membicarakan kematian di depan keluarga, secara teknis, adalah membicarakan siapa yang saya pikirkan akan memandikan, mengafani, menyalati, dan memasangkan lahat untuk jenazah saya nanti. (Tidak mengejutkan bahwa Ayah Enya telah mempersiapkan semua anak laki-lakinya mampu melakukan itu, jauh sebelum dia meninggal. Enya, misalnya telah siap 4 tahun sebelumnya. Kakaknya, malah 7 atau 8 tahun sebelumnya. Dulu di Keluarga Remaja Islam Salman ITB, Enya pernah mengusulkan untuk menjadikan Fiqh Janazah sebagai bagian dari keterampilan yang diajarkan bagi adik-adik grup tertentu, tapi tampaknya usul itu terlalu “visioner” sehingga tidak tertangkap esensinya, dan tentu saja lenyap akhirnya).
Membicarakan kematian di depan anak-anak saya adalah meyakinkan pada mereka bahwa sehebat apapun saya, ketika kami sudah berpisah dunia, saya membutuhkan bantuan mereka lewat kebaikan-kebaikan yang mereka lakukan pada orang lain. Karena hanya itu yang akan melapangkan saya di alam barzakh, mengurangi siksa kubur yang harus saya alami, ketika saya tidak bisa berbuat kebaikan apapun lagi. Membicarakan kematian di depan istri saya adalah meyakinkan padanya bahwa ada amanah Tuhan yang pasti akan dipertanggungjawabkan oleh kami berdua di mahsyar, yang akan diteruskan olehnya tanpa saya, dan sebesar apapun cinta saya padanya, saya tidak bisa melakukan apapun untuk membantunya.
Secara sederhana, bagi saya, tidak mungkin seseorang bicara tentang kematian sedemikian percaya diri kalau terlalu cemas dengan hiruk-pikuk dunia.
Dalam wacana kesufian dituturkan bahwa kalau ilmu tentang ruh SEDIKIT SEKALI DIKUASAI OLEH MAKHLUK, maka ilmu tentang kematian HANYA BISA DIKUASAI OLEH SEDIKIT MAKHLUK. Hanya makhluk yang berusaha terus mensucikan dirinya yang dapat memahami dan menghayati makna kematian. Keyakinan dan makna tentang kematian akan semakin tertutup bila batin semakin kusam, demikianlah hingga ilmu tentang kematian (dan selanjutnya tentang kehidupan akhirat) tertutup bagi syetan dan mereka yang ingkar. Mungkin saja bagi mereka pengetahuan kognitifnya ada, tetapi itu tidak membuat mereka punya pandangan lebih positif tentang manusia, dunia ini, apalagi Tuhan. Mereka-mereka yang berani menghadapi dan menghayati makna kematian, umumnya memiliki sisi spiritual yang amat kuat. Bukan hanya di kalangan pemikir-pemikir Islam, tapi juga bisa kita rasakan ketika membaca Elisabeth Kubler-Ross (“On Death and Dying”), Bernard Siegel (“Love, Miracles, and Medicine”), M. Scott Peck (The Road Less Travelled), atau Viktor Frankl (Man’s Search for Meaning). Hanya yang bisa merasakan keberpisahan dan kematian itu nyata, yang akan bisa menikmati apa yang dia lakukan saat ini. Bukan menikmati dalam arti kesenangan, tetapi menikmati dalam arti menemukan makna. Tidak ada yang rutin dan membosankankan dalam hidup mereka, karena jiwa mereka setiap saat “mati dan tumbuh menjadi lebih baik, mati dan tumbuh menjadi lebih manusiawi”. Tidak ada sesuatupun di dunia ini yang bisa tumbuh tanpa matinya sesuatu yang lain. Kita bahkan sudah melihat ini dalam siklus hidup makhluk bersel satu. Saya harus berani menghadapi “kematian-kematian kecil”, kalau saya ingin merasakan “kehidupan-kehidupan yang lebih besar”. Sementara sebuah “kematian yang besar”, akan merupakan gerbang bagi “kehidupan yang abadi”. Ini yang membuat mereka tidak takut pada kehilangan dan kematian, apalagi perubahan. Dengan filosofi kematian seperti inilah maka dalam Change Management atau Organizational Development, sebuah strategi perubahan yang utuh harus mencakup bukan hanya PENGHIDUPAN corporate culture yang baru (LEARNING NEW SKILLS), tetapi juga PEMBUNUHAN corporate culture yang lama (UNLEARNING OLD SKILLS).
Enya beruntung diperkenalkan ayahnya pada tradisi yang menyentuh seperti ini. Hingga saat ini, tradisi itu sudah dilanjutkan oleh generasi kedua di keluarga mereka. Sebelum berangkat shalat ‘Id, di rumah masing-masing, setiap keluarga bermaaf-maafan terlebih dahulu. Mungkin belum berbicara tentang keberpisahan dan maut. [Mungkin memang belum waktunya karena cucu-cucu ibu Enya baru dua orang yang bersekolah. Enya akhirnya, sekenal saya di Bandung, bahkan hingga saat ini, juga tidak pernah meninggalkan kesempatan menshalatkan jenazah, bahkan sekalipun jenazah tersebut tidak dikenalnya, dan mengunjungi keluarga yang berduka karena kematian di sekitar tempat tinggalnya].
Mendengarkan Enya, saya kemudian menyadari bahwa seorang ayah yang sukses bukanlah seorang ayah yang berhasil memberikan makanan paling enak, pakaian terindah, rumah termewah, fasilitas terlengkap, atau sekolah paling bermutu, bahkan hingga pekerjaan bergengsi pada anak-anaknya. Karena berkali-kali saya bertemu dengan ayah yang sukses dalam pekerjaannya dan mengatakan bahwa semuanya dia dapatkan dengan menahankan penderitaan bekerja kasar di masa muda, kemudian memberikan segala-galanya pada anak-anaknya, tetapi gagal membantu anaknya memiliki ketabahan yang sama untuk, bahkan sekadar mencuci piring kotornya sendiri di dapur. Ayah-ayah sukses tersebut, menurut saya, menyerahkan tanggung jawab “menanamkan tradisi” untuk anak-anaknya pada sekolah yang disebut unggul atau lembaga kursus yang disebut bonafide, yang sesungguhnya menjalin relasi dengan anak-anak mereka hanya berdasarkan transaksi “money talk”, bukan “love talk”, apalagi “divine talk”. Bukan murni karena kesadaran tanggung jawab keilahian. Saya percaya, cara seseorang memperlakukan anak dan istrinya, lebih banyak dipengaruhi oleh bagaimana dia melihat ayahnya memperlakukannya dan ibunya, dari pada bagaimana sekolah dan guru-guru memperlakukan dia. Itulah mengapa terlalu besar taruhannya bila pembentukan tradisi batin anak diserahkan pada yang selain ayah dan ibunya.
Akhirnya, ayah Enya memberi contoh dan bukti penting bagi saya, bahwa seorang ayah yang sukses adalah seorang laki-laki yang mampu menumbuhkan sebuah tradisi yang bermakna dalam bagi anak-anaknya. Sebuah tradisi yang mewakili nilai-nilai terdalam yang sepantasnya dipegang setiap orang sepanjang hidupnya, tidak peduli apakah dia kenyang atau lapar, apakah compang-camping atau adi busananya, apakah dia lulus dari sekolah bermutu atau hanya bisa belajar dari sekolah kehidupan. Sebuah tradisi yang akan dipegangnya entah dia dianggap dunia sebagai seorang sukses atau seorang gagal. Sebuah tradisi yang tidak hanya bisa kita sensasi dengan indra fisik, tapi pelan-pelan juga menyentuh hati kita. Sebuah tradisi yang sekalipun remeh dan sederhana, tapi membentuk cara pandang kita terhadap dunia. Sebuah tradisi yang berisi seperangkat perilaku, yang ditulis dengan indah oleh Blaine Lee, seorang sejawat Stephen Covey di Covey Leadership Centre, sebagai “…yang kita lakukan bukan karena tuntutan lingkungan, tekanan orang lain, atau kebutuhan pribadi…tetapi karena itu merupakan bagian dari prinsip-prinsip kita”.
Terima kasih Enya…saya banyak sekali belajar dari cerita tentang ‘Idul Fithri di keluargamu. Kisah sederhanamu justru membantu saya belajar dan memahami banyak hal lain dalam hidup ini. Memberi saya perspektif, bukan hanya tentang kebapakan, bahkan juga tentang bagaimana melihat perubahan, kedatangan dan kepergian, kesedihan dan kebahagiaan. Dengan ikhlas dan kerendahan hati, aku aminkan do’amu, semoga ibu dan saudara-saudaramu tidak menjadi fitnah bagi ayahmu di akhirat nanti.[Duh, sebuah kalimat doa yang sangat berani, keras, dan tajam, menurutku. Sejenis doa yang sangat khaufi, yang penuh rasa takut, yang tidak enak dibaca panjang-panjang dengan suara keras di depan orang banyak karena tidak manis dan menyenangkan]. Dan meskipun belasan tahun yang lalu tidak diwarisinya kalian dengan harta yang banyak dan hidup sempurna, tapi semoga cintanya pada kalian yang selalu dikaitkannya dengan Tuhan, akan membantunya mendapatkan perlindungan dan sebuah singgasana di sekitar para nabi, di sisiNYA.
Š
Epilog: Tulisan ini pernah kukirimkan sebagai pesan di milis alumni Masjid Salman ITB dan Keluarga Remaja Islam Salman ITB. Meskipun pada awalnya tidak ditulis untuk milis tersebut.