Saya lahir dan dibesarkan di Medan, Sumatera Utara. Suku Ayah Batak Pakpak, Batak minoritas yang kurang dikenal. Ibu Minang Chaniago, konon salah satu dari 5 suku penting Minangkabau. Tapi tidak satu kulturpun di antara keduanya yang bisa disebut “membesarkan” saya. Terutama karena tidak ada satupun dari kedua bahasa itu yang saya kuasai dengan baik. Setelah meninggalkan Bandung, Jawa Barat, sekitar 1998, hingga sekarang saya tinggal di dusun Gondang, Desa Tegal Gondo, di sisi barat luar kota Malang, Jawa Timur.
Ada 5 sekolah formal yang saya masuki. Semuanya sekolah agama. 4 di antaranya berijazah. Ada 4 Kampus yang pernah saya kuliahi, dengan 4 jurusan yang berbeda. 3 dari kampus itu milik pemerintah. Saya pernah belajar di Teknik Sipil, Psikologi, Bahasa, dan Hukum Agama. Tidak satupun yang bisa saya selesaikan.
Psikologi adalah keingintahuan kekanakan saya, cinta remaja, dan (hingga saat ini, selalu) menjadi penguji keseimbangan dan kematangan intelektual saya. Saya tidak pernah kehilangan 3 hal ini meskipun pernah diminta mengundurkan diri dari sebuah fakultas Psikologi karena digolongkan sebagai mahasiswa lalai, dan karenanya tidak layak menjadi sarjana, di saat-saat terakhir masa kuliah setelah menyelesaikan skripsi. Hadiah Tuhan yang amat unik ini membuat saya merasa hampa, lemah, terasing, dan sendirian. Hingga saat ini, hadiah ini masih menjadi rahasia terbesar yang saya simpan, bahkan terhadap orang-orang yang bekerja sama dengan saya sehari-hari, kecuali suatu saat nanti mereka membaca halaman ini. Tapi sebagaimana sepantasnya Tuhan memberi hadiah, rahasia terbesar ini memberi saya perspektif, membantu saya mempertanyakan banyak hal tentang siapakah saya sesungguhnya, ketika sesuatu yang selama ini saya banggakan hilang. Salah satu perspektif yang saya dapat adalah bahwa sejak saat itu, saya berjanji untuk selalu berusaha belajar sesuatu dari hati, dari cinta. Karena hanya dengan ilmu yang berawal dari hati dan cinta, tidak ada lagi sesuatupun yang bisa memenjarakan saya. Tidak manusia, tidak ilmu itu sendiri. Karena saya masih menyimpan 3 hal itu pula, saya sangat berterima kasih pada guru-guru saya di Psikologi dulu, karena penjelasan mereka tentang Psikologi, sangat membekas dalam hidup saya. Hingga saat ini, saya masih terus mempelajari, dari Psikoanalisa hingga Fenomenologi-Eksistensialisme, dari Rorscach Inkblot Test sampai Grafologi, bahkan masih membaca bahan-bahan kuliah Dekan yang dulu mengatakan saya tidak layak menjadi sarjana, bukan lagi karena ingin diakui secara akademik, atau karena darinya saya mendapatkan uang, tapi karena saya mencintai ilmu ini. Dan inilah jalan yang saya pilih.
Saya sangat berminat pada karya-karya terbaik apapun, kapanpun, di manapun, yang pernah dihasilkan manusia. Minat ini paling besar saya tujukan pada ide dan kata-kata yang dituliskan. Catur adalah permainan kompetitif paling dini yang saya kenal, dan cukup mempengaruhi cara saya berpikir, yang masih terus saya pelajari dan lakukan secara amatir. Selain berafiliasi pada sebuah klub, saya akan bercerita tentang catur pada siapa saja yang berminat mendengarkan, dan pasti menantangnya menunjukkan kemampuan terbaiknya dalam bermain kalau dia memahami aturan dasar permainan ini. Salah satu yang selalu saya bawa kemanapun saya pergi beberapa hari adalah satu set catur lipat, buku notasi langkah catur, dan jam catur. Buku notasi akan mengingatkan saya pada langkah dan pola terbaik berdasarkan pendekatan teoretis tertentu, sedangkan jam akan menambah tekanan berpikir efisien ketika saya harus memilih langkah yang akan saya mainkan.
Setiap kali memasuki daerah-daerah baru, saya selalu penasaran dengan Pasar Buku Bekas-nya, dan tempat para pemain catur berkumpul. Kadang-kadang karena keterbatasan waktu, dua-duanya tidak saya temukan.
Dari Pasar Buku Bekas, saya terutama menyimpan harapan semoga ada satu dua buku terbaik di bidangnya yang bisa saya ambil sebagai kenang-kenangan pernah ke sana. Tapi sebagai sampingannya, sering saya dikejutkan oleh siapa sesungguhnya yang tinggal di daerah ini, dan buku apa saja yang pernah dibaca orang-orang di sini. Dari catatan pinggir dan tulisan pemilik sebelumnya, sering saya temukan bahwa sebuah buku pernah datang dari tempat yang amat jauh dan waktu yang amat lampau untuk sampai ke tangan saya.
Dari tempat berkumpul pemain catur, yang terpenting adalah saya bisa menemukan kawan-kawan baru, dari berbagai tingkat ekonomi dan status sosial, dan mendengarkan ujar-ujar mereka tentang, entah catur entah hidup sehari-hari. Sering juga saya jadi berkesempatan mengenal siapa pecatur terkuat di daerah itu, dan menjadi penyampai salam dari seorang pecatur kuat pada pecatur kuat di daerah lain. Dan terakhir, berkumpul dengan mereka pasti akan menyegarkan kembali pikiran dan emosi saya dengan menikmati sensasi kalah dan menang, terutama saat-saat ketika hampir-kalah atau hampir-menang, dalam beberapa babak permainan.
Selain senang mendengarkan resital Abdurrahman As-Sudais, saya juga suka mendengarkan musik New Age, terutama Vangelis dan Enya. Di antara nama pemusik lainnya, yang bisa saya sebutkan adalah Sting, Phil Collins, Iwan Fals, dan Ebiet G Ade. Saya menyebutkan pemusik-pemusik ini karena saya telah mendengarkan mereka paling sedikit 12 tahun, dan masih.
Selama beberapa tahun belakangan, hampir sehari-hari, saya melakukan pengamatan, pengumpulan data, analisis, dan pemetaan masalah manusia institusional, dan interaksi faktor manusia dengan institusinya. Berdasar peta masalah itu, saya juga menyusun konsep dan rencana-rencana perubahan yang berorientasi penegakan prinsip, bukan hanya peningkatan kemampuan teknis. Sekalipun selalu membuat rencana, tapi saya pun sangat menikmati tugas-tugas yang paling teknis dalam rencana yang saya buat. Saya sangat mengerti abstrak dan konkrit, desain dan implementasi, konseptual dan teknikal, sains dan seni, bahkan atasan dan bawahan, semuanya adalah dialektika. Bagi saya nilai tertinggi profesionalisme adalah melayani dan memberi dengan tulus, sehingga saya menghindari komitmen yang hanya akan diteruskan bila ada uang, atau yang mengasingkan individu dari kemanusiaannya atas nama profit. Saya suka sekali pada data, tapi selalu amat bergairah pada usaha penemuan pola-pola. Ketika mengerjakan sesuatu, dari pada stopwatch, saya lebih menyukai kompas. Di dalam tim, dari pada soal rambu-rambu, saya lebih tertarik pada peta. Berbagi dengan para guru dan murid, di tingkat apapun, di bidang apapun, selalu mencerahkan saya.
Yang menjadi Visi hidup saya adalah menjadi “seseorang yang selalu bisa datang dan pergi dengan ikhlas”. Misi hidup saya adalah “memberanikan diri sendiri, dan siapapun yang bersedia mendengarkan, untuk selalu mempertimbangkan Kehidupan ini, meskipun untuk itu harus menempuh jalan yang sulit”. Bagi saya, tidak ada yang sebanding dengan kebesaran Tuhan, tapi kalau boleh diperingkat, Kehidupan adalah hal besar lain di bawahnya. Kehidupan (dengan ‘k’ besar) yang agung ini, indah dan sangat penting bagi saya, tapi bahwa dalam segala titik kecilnya segala sesuatu adalah kedatangan dan kepergian yang harus dilakukan dengan ikhlas, tidak bisa saya tawar-tawar lagi. Sesungguhnya, tidak banyak hal hebat dan canggih di dunia ini yang saya alami, atau saya pahami, atau saya inginkan, atau ingin saya miliki. Keinginan tertinggi saya tampaknya hanya ingin mengalaminash, memahaminash, memilikinash. Kalau saja bisa, saya hanya ingin menjadi, menjadinash.
Hal sejati pada manusia yang saya temukan adalah kesediaannya terus belajar, kerendahan hati, kesederhanaan, dan kesediaannya mengorbankan diri untuk sebuah makna. Saya selalu berdoa semoga ketika semua yang tampaknya menjadi milik saya ternyata fana, kesejatian manusia itu sedikit banyak ada juga yang tersisa. Saya sangat ingin bisa mengaitkan diri dengan seluruh umat manusia melalui hal-hal itu, dan hanya dengan hal-hal itu. Tapi sayapun mengerti, bila dibiarkan, hal-hal sejati dan doa pribadi itu hanya akan tinggal kering, murung, dan gelap. Karena itulah saya juga belajar untuk peka terhadap rasa humor yang tinggi. Hingga kalau kefanaan ini nanti berakhir, dengan tidak banyaknya beban yang harus saya lepaskan dari genggaman saya, saya ingin bisa segera berangkat sambil berlari, meloncat-loncat, melambaikan kedua tangan kuat-kuat, dan senyum lebar. Lambaian dan senyum itu untuk orang-orang yang saya tinggalkan, untuk Sang Pemanggil, dan untuk diri sendiri tentu saja. Saya ingin sesaat sebelum saya berangkat, orang-orang yang selama ini bersisi-sisian dengan saya masih bisa tersenyum, karena saya menyadari dalam waktu panjang sebelumnya, saya banyak membuat mereka menangis. Saya sangat ingin, selain dengan ikhlas, keberangkatan terakhir saya nanti juga bisa berlangsung jenaka.
Akhirnya, bila dalam bahasa hanya ada tiga frasa untuk merepresentasikan diri saya, maka itu pastilah “kesediaan menunggu”, “kesiapan berangkat”, dan “kemampuan menahankan”. Anda cukup memanggil saya Nash. Tampaknya ini seperti sebuah kata Arab yang berarti “dalil agamawi”, tapi sebetulnya merupakan potongan kata pertama, dari nama lengkap saya yang berarti “Pertolongan Tuhan”.
15 Mei, 2008 at 3:00 pm
Saya ingin berbagi pendapat, bagaimana komunikasinya
19 Mei, 2008 at 8:38 am
Mantap Nash,
Teruslah menulis,karena saya suka dengan tulisannya.
Saya sudah masukkan link nash dalam blog Madrasah tercinta http://www.man1medan.blogspot.com
29 Agustus, 2008 at 7:41 am
anda terlalu banyak minat, terlalu mencintai berbagai-bagai…cinta itu bisa membunuh anda, kadang-kadang….anda mirip saya hehehe…salam kenal!